Bagian I

Posted April 17th, 2009 by bambang_aris

31 Agustus 1993, Ketika bangun, matahari belum menampakkan wajahnya, barangkali ia masih sembunyi di balik gedung-gedung tingi, atau ia malu untuk menampakkan diri pada kota Jakarta. Aku tak terpengaruh oleh itu semua, barang-barang yang kusiapkan tadi malam, ku cek lagi perlengkapanku: 2 setel pakaian Abri untuk di lapangan, kaos, handuk, sabun, odol, sikat gigi……………….
Pagi ini bapak ibu angkat aku sudah bangun juga untuk melaksanakan sholat subuh.
Selesai makan, aku pamit kepada orang tua angkat ku. Ku cium tangan ke dua rang tua itu. Aku berangkat di antar sama sopir sampai kampung rambutan,. Dari situ naik mikrolet jurusan depok, turun di Pal 8, nyambung lagi ke kampus UI. Sampai di kampus Politeknik, sudah ada beberapa mahasiswa baru dan senior yang datang. Beberapa mahasiswa baru itu sibuk mengecek perlengkapan yang di bawa, terutama anak cewek yang bawaannya seabrek-abrek. “Ini mau latihan militer atau mau piknik”, pikirku dalam hati.
Sesama mahasiswa baru mungkin aku paling kagok (sock), aku berasal dari kota kecil di sumatera, kota yang masih muda, Bengkulu. Sedangkan mereka dari kota ini, JAKARTA. Aku seperti nggak percaya ketika namaku tercantum di pengumuman penerimaan Politeknik, mungkin karena aku telah berusaha dan doaku terkabulkan Allah. Selesai daftar ulang, kegiatan pertama di kampus adalah O S P E K yang di beri nama OPP (Orientasi Pendidikan Poiteknik). Acaranya sama dengan perguruan tinggi lainnya, “Balas Dendam”. Nggak ada manfaatnya sama sekali, malah kenangan disini nggak ada sama sekali. Mungkin disini kita diukur kesetiaan kita kepada teman, keujuran, rasa tanggung jawab. Kalau Cuma itu, kita bisa melihat dari tingkah laku saja dapat melihat. Nggak usah ngadain kegiatan seperti ini. Nggak ada manfaatnya, malah ngabisin dana.

********

Pagi ini upacara pelepasan mahasiswa untuk mengikuti latihan dasar militer (Latsarmil). Pak direktur sendiri yang melepas. Kami di bagi dalam beberapa pleton, aku termasuk pleton K dan masih ada pleton L, M.. selesai upacara, kami digiring (bebek apa kambing pake digiring) ke kelapa dua, disini upara pembukaan. Di kelapa dua ini merupakan tempat brimob yang mendidik kami nantinya. Perkiraan ku kami akan di didik di sini tinggal diasrama, seperti yang ku tonton di TV.
Dugaan ku salah besar, kami digiring lagi dengan menaiki truk-truk pengangkut pasir, ada beberapa mobil yang memang berasal dari brimob, tapi kebetulan aku naik truk yangmasih ada bekas pasir. Aduh! Satu penderitaan sudah di mula. Kendaraan yang membawa Kami menyulusuri jalan Raya Bogor  diperjalanan ini pula kami yang berada dalam truk mencoba menghibur diri dengan berteriak atau bernyanyi. Tapi nggak kompak, kami masih stress, mau di bawa kemana kami. Aku hanya menikmati pemandangan dalam perjalan ini, seperti aku menikmati perjalananku menuju kota jakarta dari kotaku. Aku berharap cepat sampai, aku sudah nggak tahan lagi berdiri dan berdesak-desakan dimoil ini.
Melewati kebun raya bogor, istana bogor, balai kota dengan lancar. Banyak orang melambaikan tangan, dan berteriak-teriak kepada kami. Kami balas lambaian mereka dan mencoba tersenyum senang. Lambaian mereka membuat kami bangga dan senang. Perjalanan diteruskan sampai ke luar kota bogor, melewati perkampungan dan desa.
Setelah mengalami perjalanan panjang dan melelahkan, akhirnya belum sampai juga….(he..he..he..), sampai udah sampai. Hari masih panas terik, apalagi daerah ini merupakan bukit-bukit kapur. Air minumku sudah habis, dan aku mencoba minta kepada orang kampung sedikit air. Tetapi beberapa teman menyuruh lebih baik jangan dengan alasan takut diracuni katanya, apalagi kita belum kenal mereka. Betul juga kata mereka, tapi aku sudah benar-benar haus, aku nekat minta juga. Mencoba bicara sebaik-baiknya, dan mereka memberikan. Airnya masih hangat, dilidah masih terasa membakar. Jadi ku biarkan dulu dalam Peples, sambil melakukan perjalan lagi dengan berjalan kaki. Kata pembina dari brimob jaraknya tidak jauh lagi, tapi terasa jauh karena barang yang kami bawa cukup berat. Apalagi ditambah bawaan anak cewek. Mereka sudah minta tolong dengan memohon dan di kasih iming-iming permen.
“ya, kalo sun sih mau!” candaku. Anita temen satu pletonku cemberut.
“Entar di kasih!” Jawab Ery. Sementara itu ku perhatikan Anita masih sebel. Kayaknya sebel karena cape’ dan hari panas, dan panasnya nggak ketulungan. Nggak ada pepohonan untuk tempat berlindung, yang di depan mata hanya bukit kapur. Mendekati daerah perkemahan mulai ada tumbuhan seperti padi, kelapa sawit dan perkebunan karet. Tapi tempat kami latihan dan mendirikan tenda nantinya adalah tempat yang terbuka. Tanah lapang di kaki bukit kapur dan sebelahnya mengalir sungai yang jernih. Diebelah sungai ada pematang sawah. Tempat ini jauh dari rumah penduduk. Tempat ini khusus untuk latihan untuk Abri dan juga orang-orang seperti aku, menwa, calon satpam dll. Bukit kapur yang ada diseblah kami, bisa saja tiba-tiba ambrol karena sering diledakkan oleh orang kampung untuk diambil dan dijual. Mereka nggak perlu membawanya, karena ada truk-truk yang mengambil bongkahan-bongkahan kapur itu.
Selama 3 minggu kami akan dilatih disini. Dengan kondisi seperti ini rasanya ingin menyerah dan pulang. Tidur diitempat kasur yang empuk. Walau sudah jam 2 panasnya masih menyengat, pakai upacara lagi, baris. Uh, rasanya seperti ingin membunuh saja. Ternyata hanya sebentar, pembagian kelompok untuk mendirikan tenda. Setiap anak mendapat ponco (Jas hujan yang lebar), untuk  mendirikan tenda butuh tiga ponco. 2 ponco untuk dinding dan 1 ponco untuk alas, jadi bentuknya segitiga tanpa pintu depan dan belakang, jadi dibiarkan terbuka. Aku mendapat temen satu tenda dengan Baby Lesmana dan Ahmat Royhani. Nampaknya mereka bener-bener anak Jakarta yang enggak tau alam terbuka dan nggak terbiasa hidup seperti ini. Aku mengambil inisiatif memimpin mereka mendirikan tenda. Kudirikan tenda di tnag yang kanan kirinya miring. Jadi apabila hujan airnya tidak masuk dan mengenang. Dan tak uah repot-repot membongkarnya lagi, untuk pindah apabila hujan. Ini untuk jangka panjang, 3 minggu. Bayangkan!
Untuk mendapatkan tali rapia, kita dapat membeli dari para penduduk yang menjualnya disekitar tenda-tenda kami. Tapi tali memang sudah sejak dari rumah ku bawa. Hanya butuh plastik penutup untuk pintu kami, dan kami urunan untuk beli. Oh ya, gara-gara perkiraanku yang salah tentang bakal tinggal di asrama dan nggak perlu baw uang. Aku hampir saja nggak bawa uang sama sekali. Untung waktu di mobil, waktu diantar ke terminal kampung rambutansopir bapak nanyain itu, apakah aku bawa uang. Aku bilang tidak karena mungkin tinggal d asrama jadi nggak perlu bawa bawa uang. Dia meberiku sepuluh ribu untuk pegangan katanya. Mungkin saja aku tinggal di hutan, atau apabila nanti melakukan perjalanan panjang dan melewati warung, kamu dapat beli sesuatu untuk dapat dimakan, pesannya.
Dan itu benar-benar terjadi aku memang tidak tinggal dihutan, tapi di sekeliling bukit kapur yang panas ini. Sebelum mendirikan tenda aku melakukan makan bersama dan sholat. Setelah selesai mendidikan tenda kami mencoba tidur di dalam tenda. Wah!, baru mau mengagumi tenda buatan kami, panas di dalam tenda itu menyengat.  Hanya sebentar saja udahsudah keringatan, langsung aku keluar, istirahat di bawah pohon karet. Sambil memejamkan mata aku mecoba mengngat hal-hal yang menyenangkan, tapi pikiranku lari kepda apa yang akan terjadi esok disini, setelah ini. Makan siang tadi pakai kacang panjang, telur dan nasi yang keras. Mungkin karena lapar lahap saja makannya. Bahkan aku sampai nambah, berhubung sudah dijatah, nambahnya bantuin anak cewek makan. Terutama bantuin si Anita yang nampaknya masih murung dan nggak nafsu untuk makan. Yang lain nampaknya biasa saja, tapi stres juga melanda mereka, terpancar dari wajah-wajh lesu.
Waktu sholat, aku takmelepas sepatu tentaraku, cukup dengan membasuh ujung-ujung sepatuku. Dalam keadaan begini kita harus tetap siaga menghadapi hal-hl yang mendadak. Seperti alarm staling, walau ini hanya sebuah latihan untuk mahasiswa baru, kami merasa takut juga, ini baru bagi kami. Tiba waktunya untuk mandi ketegangan sedikit reda.
Tempat mandi untuk cowok sebelah atas dan untuk cewek sebelah bawah sungai. Untuk hari pertama ini mandi di sungai hal yang sudah lama tidak aku lakukan, mungkin 5- tahun yang lalu. Sbagian anak cowok ada yang mandi telanjang bulat (ada yang lonjong, ada juga yang berbentuk persegi panjang, emang apaan sih….). Cuek  aja! Nggak ada cewek ini. Sementara aku masih malu untuk telanjang bulat dan takut kalau anuku digigit binatang yang nggak aku tau. Sungai nggak terlalu dalam , sebatas lutut dan tidak mengandung lumpur. Dari tenda jaraknya sekitar 100 meter. Cukup menuruni jalan yang berada di belakang tenda-tenda kami. Walau tempat mendirikan tenda kami terbuka. Tempat mandi kami cukup tertutup dengan pohon-pohon karet.
Selesai mandi sore, aku cek kembali barang-baran ku dan santai sampai magrib. Orang-orang kampung  sini datang ke tenda-tenda kami untuk menjual plastik, kue , air mineral, senter, sendal, buku, pena dll. Kayaknya daerah ini biasa digunakan untuk latihan militer.
Pada pukul 18.30 (kebetulan aku bawa jam), kami mengadakan apel malam, dan makan malam ini kami bergilir untuk makan. Tetapi tiba-tiba hujan menguyur kepala kami. Untuk beberapa saat aku tak bergerak dan tetap pada barisan. Tetapi hujan bertambah deras. Aku, Beby dan teman-teman lannya berlari ke tenda untuk menghindari hujan yang bertambah deras. Di dalam tenda aku, ahmad dan beby. Tenda kami nampakknya bocor. Untuk beberapa saat atau beberapa hari biar saja, entar kalau sudah reda akan kami perbaiki. Sekitar satu jam hujan baru reda. Untuk beberapa saat kami saling bertukar pikiran bagaimana kita menghebat uang untuk selama 3 minggu ini. Karena kami sama-sama tidak membawa uang banyak. Kemudian kami tidur, Beby saya suruh tidur di tengah, aku seblah kanan dan Ahmad sebelah kirinya. Badan beby lumayan gede. Aku berusah menjga badanku jangan sampai keluar dari tenda. Kami tidur dalam keadan pakaian lengkap kecuali topi ku gantung di atasku dan ransel kujadikan bantal tidurku. Terasa sakit kepalaku, ku ambil posisi ransel supaya kepala terasa nyaman sedikit.
Tiba-tiba, entah jam berapa malam ini, Beby bangun berdiri secara mendadak dari tidurnya. Aku berpiir, ada apa ini apakah ada ular. Aku tak berani bergerak. Tapi tanpa kusadari akupun ikut keluar dari tenda dengan gerakan cepat. Aku berdiri di belah Beby, yang berdiri terpaku, wajahnya pucat. Tiba-tiba dari pos jaga datang pembina yang kebetulan lagi jaga
“ada apa ini, berkelahi Ya? Tanya pembina itu dengan keras.
“ini pak, teman saya! Nggak tau tiba-tiba terbangun!” jawabku sekenanya.
“Saya, saya mimpi gunung meletus!” jawab beby.
Aku mencoba menahan tawa. Dan pembina itu menyuruh kami tidur kembali.

(bersambung ke bagian II)


2 Responses to: “Bagian I”

  1. Cak Lukman responds:
    Posted: April 18th, 2009 at 12:56

    Salam … wah …. kenangannya masih lengket ya … akau tunggu lho sambungannya

  2. bambang_aris responds:
    Posted: April 20th, 2009 at 08:35

    terima kasih atas commentnya.. sudah saya selesaikan bagian pertama. masih ada beberapa bagian lagi yang menarik untuk saya ceritakan disini.


Post a Comment

Enter Your Details:


You may write the following basic XHTML Strict in your comments:
<a href="" title=""></a> · <acronym title=""></acronym> · <abbr title=""></abbr>
<blockquote cite=""></blockquote> · <code></code> · <strong></strong> · <em></em>

  • Including a link in your comments will require moderator approval. No Spam please.
  • If you’re a first-time commenter, your reply will be held for moderation. Sorry.
  • Please do not force me to have to edit or remove your comments. No Spam please.
  • Your mature and responsible replies are greatly appreciated by all. Thank you.
Enter Your Comments:


Note: This is the end of the usable page. The image(s) below are preloaded for performance only.