Friday, June 19th, 2009 | Author: suharyanto


Oleh: Suharyanto

Baru-baru ini, petinggi kota merasa kecewa dengan kerusakan jalan kota. Kecewa karena jalan raya kita semakin susah dilewati dan membahayakan bagi pengguna jalan. Maka kemudian, banyak kalangan justru bertanya, kepada siapakah petinggi kota ini marah? Bukankah kerusakan ini semakin diperparah dengan lalu lalangnya truk-truk fuso yang konon katanya kendaraan tersebut masuk kota atas restu sang petinggi. Jadi kepada siapakah beliau marah?

Jika alasan marah karena jalan rusak, mestinya marahnya sudah dari dulu-dulu, soalnya kerusakan jalan bukan baru seminggu dua minggu ini. Perbaikan yang dilakukan justru memperparah kerusakan karena perbaikannya “tidak” pernah selesai. Kerusakan yang semakin menjadi juga akibat truk-truk fuso yang melintasi jalan kota. Apakah marahnya kepada “fuso?”. Jika iya, tentunya harus diikuti dengan melarang fuso melintasi jalanan kota yang memang seharusnya tidak boleh lewat di dalam kota.

Lantas marah kepada siapa? Kepada masyarakat? Bukankah seharusnya yang marah adalah masyarakat si pengguna jalan? Dengan kerusakan yang semakin parah maka perjalanan menjadi terganggu dan berbahaya? Belum lagi bila berpapasan atau bersimpangan dengan truk-truk besar? Sebagai warga kota maka pertanyaan tersebut wajar timbul. Warga masyarakat telah membayar pajak yang seharusnya dapat menikmati perjalanan yang menyenangkan di dalam kotanya sendiri. Bahkan, bisa-bisa kekecewaan ini menimbulkan kemarahan. Buktinya, sudah beberapa kali jalan yang rusak kemudian ditanami pohon pisang. Ini adalah cara protes dan menunjukkan kemarahan mereka.

Wajar masyarakat kecewa dan protes walaupun dengan cara yang agak aneh karena cara yang biasanya tidak membuahkan hasil. Berbagai cara, mulai dari kirim layanan singkat di media massa, surat pembaca, demonstrasi, dan mendatangi kantor wali kota dan lain-lain. Meskipun tidak juga membuahkan hasil, dengan menanami pohon pisang ding tempat jalan yang rusak, paling tidak mendapat tanggapan dengan mencabut pohon dan meratakan kubangan jalan dengan korang. Semua tahu bahwa “perbaikan” yang seperti itu bukanlah jawaban. Masyarakat hanyalah menginginkan respon yang kemudian akan diikuti dengan tindakan perbaikan yang sesungguhnya dan mengeliminasi faktor-faktor yang mempercepat kerusakan jalan, termasuk melarang truk fuso melewati jalan.

Pemecahan masalah fuso di tengah kota harus diselesai terlebih dahulu maka kemudian satu faktor penghancur jalan sudah teratasi, tinggal faktor-faktor lainnya. Bila ketentraman masyarakat dari pengguna jalan dapat ditunaikan maka tinggal di dalam gang, lalu di dalam rumah. Jalan, adalah awal kesan bagi orang luar kota untuk menilai kondisi di dalam rumah warganya. Bila jalan yang ada terlihat bagus, indah, elok dan lain sebagainya maka kesan ini akan menetap di memori pengunjung kota. Maka klop antara program pemerintah dengan kenyataan yang ada, yaitu menjadikan Bengkulu sebagai kota wisata yang ditunjang dengan keindahan jalanannya. Dan, tidka menutup kemungkinan adipura yang lepas dari genggaman kita akan diraih kembali. Jangan sampai masyarakat kecewa dan marah hanya karena jalan.[]

Bengkulu Ekspress, Jumat 18 Juni 2009.

Category: Bengkulu Corner |  325 Comments
Monday, June 15th, 2009 | Author: suharyanto

(Sebuah Cerpen)

Oleh: Suharyanto

Aku dan istriku baru saja selesai membereskan pekarangan rumah baru kami ketika sinar matahari tepat di atas ubun-ubun yang tidak menimbulkan bayang-bayang badan. Kami beristirahat di emperan rumah sambil memandangi pekarangan yang baru kami bereskan dari rerumputan dan sampah-sampah.  Kebetulan hari itu kami sengaja tidak harus terburu-buru masak supaya cepat selesai membereskan rumah dan pekarangan.

Sebelumnya, rumah ini terlihat kotor dan banyak rumput liar di sekitarnya, maklum rumah yang seukuran tipe 36 yang sudah diperluas tambahan dapur ini sudah agak lama ditinggalkan pemiliknya pindah di rumah barunya yang lebih bagus dan mewah. Si pemilik adalah seorang pejabat daerah.

Mungkin karena dia seorang pejabat daerah dan banyak uang maka diapun menawarkan rumah dengan murah kepadaku sekaligus sebagai bentuk pertolongan kepada orang sepertiku. Akupun merasa bersyukur sekali walaupun bagiku tetap saja masih amat mahal. Sebagai PNS yang baru diangkat 6 bulan lalu melalui honorer golongan II, akupun mengikuti jejak rekan-rekan dan senior-seniorku menggadaikan SK PNS untuk membeli rumah ini.

Sekarang aku merasa lebih sumringah dan pede dengan memiliki rumah sendiri. Tidak seperti sebelumnya yang tinggal mengontrak 1 los kamar bedengan. Selain sempit untuk ukuran keluarga dengan dua orang anak sepertiku, juga sering terjadi salah paham dengan tetangga kamar los tentang penggunaan listrik dan air. Meteran listrik dan air bedengan 4 los kami dulu menjadi satu sehingga penggunaannya dibagi rata, tetapi di situlah perselisihan sering terjadi. Yah, sekarang kami terbebas dari itu semua. Aku sudah menjadi seorang PNS dengan rumah sendiri.

Sebenarnya kondisiku sebagai PNS dan ketika menjadi honorer dulu tidaklah jauh berbeda dalam banyak hal. Hanya sekarang aku menjadi bertambah yakin dengan statusku bila mengenakan seragam Pemda dan PNS. Terasa elegan, serasi antara pakaian dengan status. Jika ditanya orang, “Bapak bertugas dimana?” maka dengan penuh percaya diri aku jawab bersemangat. Tidak seperti waktu masih honorer dulu, justru baju seragamku menjadikan aku malu bila ditanya seperti itu. Apa lagi kalau pertanyaannya berlanjut ke job description maka aku dengan malu menambahkan jawaban “…tapi saya masih honorer…”.

Tetapi itu semua sudah tidak ada lagi. Sekarang betul-betul menikmati sebagai pegawai pemerintah daerah walaupun dengan gaji kecil. Aku dan istri kadang-kadang mengenang masa ketika masih honorer dulu. Betapa kami harus membanting tulang untuk menghidupi kedua anak kami. Selepas pulang kantor, aku masih cari obyekan lain. Lalu, keceriaan timbul ketika namaku muncul dalam daftar data base. Nama honorer yang masuk dalam data base pasti akan diangkat menjadi PNS. Kami bersujud syukur betapa akhirnya akupun siap diangkat menjadi pegawai pemerintah. Suatu harapan yang banyak diminati orang. Ini terbukti dari begitu membludaknya peserta tes CPNS dari tahun ke tahun. Ironinya, meskipun mereka tahu bahwa tes itu formalitas belaka, karena yang bakal lulus sudah ada, tetap saja diikuti. Bahkan semakin marak, termasuk aku dan istriku.

Nasib baik tengah berpihak kepadaku sehingga namaku masuk ke dalam data base sebagai honorer yang akan diangkat menjadi PNS. Tetapi inipun tidaklah selancar yang dibayangkan. Pada saat pengumuman tahun lalu namaku dan puluhan honorer data base tidak muncul, malah yang muncul nama-nama yang baru saja jadi tenaga honorer. Untungnya ada LSM dan mahasiswa serta kaum peduli pemberantasan KKN sehingga ada revisi pengumuman dan namaku tercantum di pengumuman versi revisi.

***

Pak RT lewat dan menyapa kami. Meskipun tadinya sekedar lewat, akhirnya kami terlibat perbincangan ringan. Pak RT datang kami sambut dengan senang. Maklum kami adalah warga baru jadi kedatangan orang lain apa lagi Pak RT membuat kami merasa gembira, sepertinya kedatangan kami sebagai warga baru sangat diharapkan.

“Mau ke mana Pak?” tanyaku seraya mendekat ke arah Pak RT. Rupanya Pak RT berhenti tepat di depan rumahku. Di depan gerbang dan akupun mempersilahkan masuk. Aku berbalik badan hendak masuk rumah dengan harapan akan diikuti Pak RT. Sementara istriku sudah terlebih dahulu masuk rumah.

“Biarlah Dik, di sini saja” Pak RT menolak, seraya  menawarkan  bahwa kalau perlu bantuan alat-alat buat bersih-bersih rumah bisa diambil di rumahnya. Pak RT juga memberi beberapa nasihat terutama terkait dengan keamanan rumah. Nasihatnya sangat  bisa kami terima apa lagi Pak RT sudah tua, seusia dengan orang tuaku di kampung sehingga petuah-petuahnya kami perhatikan.

“Di tempat kita ini sering diintai orang yang berniat tidak baik, Dik” Demikian Pak RT mengatakan. Katanya lagi, pencuri sering susah dibedakan dengan pemulung. Aku langsung terpikir, mungkin sama susahnya membedakan antara pejabat dengan penjahat di negeri ini.

“Kita ini serba bingung, soalnya pernah ada pemulung tertangkap tangan sedang mencongkel jendela kamar rumah Pak Dulah” kata Pak RT lagi. Mungkin ini yang menjadi alasan menyamaratakan setiap pemulung patut dicurigai sebagai pencuri.

Wah, rumah Pak Dulah saja mau dicongkel pencuri, padahal rumah Pak Dulah termasuk di deretan depan gang kami. Sedangkan rumahku agak ujung gang dan berbatasan dengan tanah berawa-rawa di bagian belakang rumah. Di bagian belakang itulah ada jalan kecil yang sering untuk lalu lalang anak-anak dan jalan pintas pemulung menuju jalan besar di sebelah kompleks. Apa lagi pagar kawat di belakang rumahku sudah banyak yang rusak sehingga sering digunakan pemulung atau anak-anak buat lewat ke gang kami.

“Jadi, Dik…” Pak RT meneruskan nasihatnya, “Nanti kalau ada rejeki sebaiknya pagar belakang itu diutamakan, diperbaiki”. Aku sudah menangkap maksudnya. Dalam hati aku sudah memikirkan perihal pagar kawat di belakang, tetapi aku tidak memprioritaskan apa lagi dikaitkan dengan pemulung yang dicurigai sebagai pencuri. Malah aku berpikir kenapa mencurigai pemulung. Bukankah mereka mencari rejeki bahkan berperan penting dalam mata rantai daur ulang. Mereka bekerja memungut barang-barang yang kita anggap sampah atau limbah untuk didaur ulang dan berdayaguna kembali. Bukankah ini peran penting bagi kelangsungan hidup di muka bumi dengan kualitas lingkungan yang tetap terjaga?

Dalam hati kecil aku tidak sanggup untuk mencurigai pemulung. Bukan saja karena aku secara sosial-ekonomi sama dengan mereka tetapi juga secara akal sulit diterima untuk mencurigai pemulung begitu saja. Tapi kenapa Pak RT sedemikian seriusnya menekankan tentang keamanan lingkungan dan pemulung. Ah, biarlah yang penting aku tidak akan ikut-ikutan berprasangka buruk dulu.

“Jadi begitu ya, Dik, supaya lingkungan kita aman” Pak RT mengakhiri perbincangan dengan kalimat kesimpulan penuh pengharapan seraya berujar “selamat berberes-beres rumah” sebagai tanda dukungan kepadaku sebagai warga baru di lingkungannya. Lalu ia meneruskan langkahnya menuju ujung gang. Entah mau ke rumah siapa, aku tidak tahu. Aku hanya mempersilakan Pak RT tanpa mengikutinya melalui pandanganku karena aku langsung masuk ke dalam rumah. Beristirahat.

***

Sore itu, di hari yang lain aku dan istriku tidak bersih-bersih dan beberes karena keadaan rumah dan sekitarnya sudah tampak bersih dan tertata rapi. Hari itu istriku hanya mencuci pakaian kotor kami yang kini sedang bergantungan di jemuran samping rumah. Meski terlihat sudah kering, kami belum ingin mengangkatnya. Kami merasa belum kering betul.

Istriku pergi ke warung depan gang membeli beberapa keperluan sehari-hari sekalian membelikan jajan anak-anak. Si kecil, tentu saja, digendong istriku dan yang besar, bersamaku di rumah. Tiba-tiba istriku kembali dan memberitahuku bahwa di depan rumah pak RT banyak orang berkerumun lantas istriku menyuruhku ke sana karena siapa tahu ada pertemuan warga. Akupun pergi ke rumah Pak RT bersama anakku yang besar sementara istriku pergi ke warung yang memang melewati depan rumah Pak RT.

Ternyata, para warga sedang membicarakan, menanyakan dan mendiskusikan perihal Pak Dulah yang sedang tersandung perkara korupsi di kantor pemerintah daerah. Aku memang tidak banyak tahu berita tentang hal tersebut. Apa lagi aku pegawai sebuah dinas teknis milik pemda, jadi tidak begitu tahu dengan kasus Pak Dulah. Rupanya berita itu dimuat di Koran. Wajarlah, soalnya Pak Dulah adalah tergolong pejabat di jajaran pemerintah daerah. Ternyata para warga merasa bahwa Pak Dulah ini banyak membantu kegiatan di lingkungan RT kami sehingga warga banyak yang bersimpati. Aku yang merupakan warga baru, sekalipun tahu Pak Dulah karena sama-sama satu kantor pemerintah daerah, aku belumlah merasa dekat. Bahkan aku berpikir jika memang Pak Dulah terlibat korupsi ya harus menanggung risikonya. Bagiku korupsi dan maling adalah sama saja, pencuri.

Aku jadi teringat cerita Pak RT tentang keamanan lingkungan dari para pemulung. Kenapa mencurigai pemulung? Kenapa kita tidak mencurigai pejabat? Toh nyatanya sekarang yang sedang berkasus korupsi adalah pejabat daerah, yang nota bene ada di lingkungan kita sendiri. Kita ternyata juga tidak adil cara memperlakukan orang karena statusnya.

Setelah berbincang-bincang dan tahu apa yang tengah terjadi, akupun pulang ke rumah. Kebetulan istriku juga sudah selesai berbelanja dan kamipun pulang bersama. Setiba di rumah, setelah istriku meletakkan belanjanya dan aku sedikit menceritakan apa yang terjadi di rumah Pak RT, istriku pergi ke samping rumah untuk mengangkat pakaian yang tadi di jemur.

“Yah.. Ayah…” istriku berteriak memanggilku.

“Ada apa!” sahutku sambil menengok ke arah istriku.

“Pakaian kita Yah… sebagian hilang” kata istriku dengan lemas.

“Astaga…!” teriakku sambil menyesal kenapa tadi tidak diangkat dulu sebelum meninggalkan rumah. Istriku terisak, menangis. Yah, beberapa celana panjangku dan satu buah jaket lenyap.

“Siapa yang berani berbuat seperti ini” gumamku. Begitu cepat kejadiannya. Oh, pencuri.

***

Bengkulu, 15 Juni 2009

Category: Stories |  71 Comments
Friday, June 12th, 2009 | Author: suharyanto

Oleh: Suharyanto

Siapakah orangnya yang tidak kenal Titi DJ? Rasanya kebanyakan kita mengenal sosok yang satu ini. Ia seorang penyanyi papan atas Indonesia yang juga mendapat julukan diva pop Indonesia. Sebuah julukan yang memperlihatkan si empunya nama sebagai “empu” dalam dunia tarik suara.

Namun, dalam dunia plesetan, kita juga mahfum dengan istilah Titi DJ. Biasanya kalangan remaja atau orang dewasa yang sedang plesetan, istilah ini biasa digunakan bila temannya akan bepergian. “Titi DJ, ya”. Maksudnya “hati-hati di jalan”. Kemudian dilanjutkan dengan “Dedi Dores, ya”. Kali ini maksudnya “dengan diiringi do’a restu”. Dedi Dores juga seorang penyanyi papan atas era 80-an. Demikianlah plesetan segar dengan mengambil nama-nama orang terkenal.

Saya tertarik dengan Titi DJ. Maksudnya plesetan hati-hati di jalan, bukan sosok Titi DJ-nya. Hati-hati di jalan memang sangat diperlukan demi keselamatan pengguna jalan dan masyarakat umum. Banyak kecelakaan yang terjadi karena para pengguna jalan tidak berhati-hati di jalanan. Bahkan, di salah satu pinggir jalan di kota kita ada tulisan yang menginformasikan pentingnya berhati-hati di jalan. “Jangan tumpahkan air mata dan darah sia-sia di jalan ini”, demikian kira-kira pesannya. Belakangan ini, di dinding facebook, Walikota juga menyampaikan pesan agar masyarakat pengguna jalan berhati-hati karena sedang ada perbaikan jalan.

Pesan Walikota tersebut menekankan pada alasan sedang ada perbaikan jalan. Dengan adanya perbaikan jalan maka banyak gangguan dalam perjalanan. Oleh karena itu perlu berhati-hati. Kita tidak tahu sampai kapan perbaikan itu berlangsung. Yang jelas, tentang berhati-hati di jalan harus selalu sepanjang menggunakan jalan dan dalam kondisi apapun jalan itu. Pun, sebenarnya, sudah cukup lama jalan raya di kota kita butuh perbaikan total. Bukan baru-baru ini saja. Banyak ruas jalan kota yang berlubang, berkubang dan bergelombang. Kondisi tersebut semakin diperparah dengan lalu-lalangnya truk-truk besar melintasi jalanan kota. Wal hasil lubang, kubang dan gelombang jalan semakin berkembang.

Inilah kondisi infrastruktur kota (dan Provinsi kita). Perjalanan yang seharusnya ditempuh dalam waktu singkat menjadi berlarut-larut di atas jalanan. Kendaraan yang seharusnya tidak boleh melintasi kota, malah diperbolehkan. Tingkat kerusakan dan gangguan lingkungan menjadi meningkat. Lalu, masyarakat protes, tetapi kemudian “tidak ditanggapi”. Maka, jalan yang di tempuh adalah dengan menanami pepohonan di tempat rusaknya jalan. Ternyata cara ini menarik perhatian sehingga segera diberikan tindakan berupa “perbaikan” sementara. Perbaikan yang sesungguhnya juga kita tidak tahu sebab, setiap hari kita hanya melihat seperti itu terus: pemerataan, penambahan koral, pemerataan, penimbunan koral dan seterusnya. Praktis, jalan kita semakin tidak layak berada di tengah kota.

Jadi, kita harus semakin berhati-hati di jalan. “Titi DJ, ya”.[]

Bengkulu Ekspress, Jumat 12 Juni 2009.

Category: Bengkulu Corner |  549 Comments
Friday, June 05th, 2009 | Author: suharyanto

Oleh Suharyanto

Menelusuri seluk beluk Kota Bengkulu, sesungguhnya cukup mengasikkan. Sekalipun kata orang Bengkulu merupakan Kota kecil untuk ukuran ibukota sebuah provinsi, sebenarnya Kota ini memiliki kekhasan. Masing-masing kota memiliki cirri khas masing-masing. Di kota ini, hampir setiap simpang terdapat tugu. Ada tugu yang tepat di tengah-tengah persimpangan, ada pula yang tidak tepat di tengah-tengah. Peraturan memutari tugu persimpangan bagi kendaraan yang akan belok kanan menjadi kewajiban, oleh karenanya kadang cukup merepotkan bila posisi tugu tidak ada di tengah-tengah. Kadang-kadang jika hendak belok ke kanan, berhubung harus memutari bundaran (tugu) yang posisinya jauh ke arah sebelah kiri justru terasa jauh dan merepotkan. Malahan, deratan kendaraan dari posisi kita belum selesai memutari tugu, kendaraan dari simpang di sebelah kanan kita sudah lampu hijau, otomatis mereka berjalan dan akhirnya kendaraan bertemu di tengah-tengah jalan simpang. Tapi unik juga, jika dinikmati. Masing-masing kota punya proble sendiri-sendiri.

Namun demikian, karena kota kecil, maka tidaklah sampai meinmbulkan kemacetan. Suasana kota yang tenang tetap terasa. Di kota ini juga tidak ada rumah yang nyaris berbatasan langsung dengan badan jalan sebagaimana ditemui di kota-kota lain. Beberapa ruas jalan dua jalur cukup rindang oleh pepohonan kota. Hanya pada ruas dua jalur baru yang masih gersang, mungkin belum akan ditanami hijauan. Dulu ada yang coba di tanam pohon Jarak untuk menunjukkan bahwa Bengkulu peduli dengan sumber energi alternatif biodiesel sekalipun sekarang kita tidak tahu lagi kelanjutannya, tetapi pohon jara itu mati semua. Sekalipun tidak ada hijauan terbuka, kota ini masih terasa hijaunya karena memang populasi manusia dan kendaraan relatrif masih sedikit dan hijauan tanaman penduduk masih banyak. Tidak tahu beberapa puluh tahun yang akan dating. Ini musti ada perencanaan kota yang baik supaya tidak terjadi kesemerawutan kota masa depan seperti yang sekarang terjadi di kota-kota besar.

Suasana damai, sejuk, hijau dan beberapa jenis ketenangan lainnya nampaknya mulai memudar. Bukan oleh pertumbuhan kota, tapi oleh kerusakan ruas jalan kota. Jalan-jalan kota ini banyak yang bergelombang, berlubang, berkubang, aspal pecah, tinggal berkoral saja dan lain sebagainya. Debu beterbangan kian kemari terhempas oleh debutan truk-truk besar yang seharusnya tidak boleh melintasi jalan tengah kota. Sekarang juga semakin banyak ditemui lubang dan kubang jalan kota akibat tidak kuat menahan beban kendaraan besar melintas. Tak ayal lagi, protespun berdatangan dari segenap lapisan masyarakat. Tetapi nampaknya kucing-kucingan masih tetap terjadi. Malahan, ada warga yang kembali menanam pohon pisang di tengah jalan tepat pada lubang atau kubang jalan. Mereka protes dengan cara seperti itu karena melalui jalur yang semestinya tidak membuahkan hasil. Jika hal seperti ini tetap berlanjut maka di tengah-tengah jalanan kota kita akan menjadi kebun pisang. Jika musim hujan datang, tidak menutup kemungkinan kubangan di tengah jalan tak ubahnya kubangan kerbau. Apakah bentuk protresnya nanti dengan menambatkan kerbau di tengah jalan? []

Bengkulu Ekspress, Jumat 5 Juni 2009.

Category: Bengkulu Corner |  752 Comments
Monday, May 25th, 2009 | Author: suharyanto

Oleh: Suharyanto

Sekecil apapun, Bengkulu juga memiliki potensi wisata yang bila dikelola dengan baik akan mendatangkan nilai plus bagi kota dan provinsi ini. Salah satu objek wisata yang berada di Kota Bengkulu adalah kawasan pantai Jakat. Pantai ini persis berada di teluk antara daratan Pasar Bengkulu dan Pantai Tapak Paderi. Pantai ini sebenarnya lebih merupakan kawasan nelayan masyarakat Pasar Bengkulu dan sekitarnya. Semenjak dibukanya jalan lingkar luar yang menghubungkan Sungai Hitam (perbatasan Kota dengan Bengkulu Tengah hingga ke Pantai Panjang Bengkulu, kawasan ini menjadi ramai dan menarik untuk dikunjungi.

Pada saat-saat tertentu, sabtu sore, hari minggu atau hari-hari libur, kawasan lingkar luar dari Sungai Hitam hingga Pantai Panjang ramai saling sambung-menyambung, terutama di sore hari. Kali ini, saya coba tampilkan sepotong senja di seputar jembatan Sungai Serut, Bengkulu.

Sebuah cerita kebetulan saja saat saya jalan-jalan di sore hari di kawasan pantai di Kota Bengkulu. Saya memasuki kawasan pantai dari Pantai Panjang terus menelusuri jalan lingkar luar hingga tembus di Tapak Paderi dan terus ke Pantai Jakat hingga Jembatan Pasar Bengkulu-Sebuah jembatan yang menghubungan Pasar Bengkulu dengan Sungai Hitam. Nah, dari Jembatan ini mula pertama terinspirasi untuk menampilkan cerita yang dihiasi gambar terkait. Tentu saja apa yang saya sampaikan ini bukanlah sebuah reportase atau sejenisnya.

Dulu, jalan yang menghubungkan Kota Bengkulu dengan kawasan di utaranya melalui Pasar Bengkulu menuju Sungai Hitam melalui sebuah jembatan yang melintasi batang Sungai Serut. Jembatan lama tersebut terletak di sebelah hulu dari jembatan yang baru sekarang ini. Jembatan yang baru sekarang, selain untuk jalan penghubung, juga menjadi objek wisata. Sore itu nampak muda-mudi sedang berjajar menikmati pemandangan sore hari dari atas jembatan yang melintasi Sungai Serut. Apakah muda-mudi yang sedang asyik menikmati sore hari di atas sungai itu menyadari bahwa dari situlah nama Bengkulu terlahir, termasuk nama-nama yang menjadi legenda Bengkulu seperti Putri Gading Cempaka.

Sungai Serut, sebuah nama yang amat lekat dengan sejarah Bengkulu, yaitu kerajaan Sungai Serut. Menurut setengah cerita, dari Sungai Serut ini lahir nama yang sekarang menjadi Bengkulu. Ceritanya, ada pembesar Kerajaan Aceh yang menyukai Putri Gading Cempaka, putri bungsu dari Raja Sungai Serut (Ratu Agung). Namun, masih menurut legenda, pihak Putri Gading Cempaka tidak berkenan sehingga terjadilah pertempuran dahsyat di sungai itu. Begitu dahsyatnya sehingga memakan korban kedua belah pihak yang amat banyak sehingga korban manusia berjajar-jajar dari muara hingga ke hulu. Banyak bangkai berhulu-hulu. Mungkin ini yang menelurkan nama Bangkahulu. Tentu saja ada teori lain yang menyebutkan tentang asal usul nama Bengkulu.

Di dekat jembatan terdapat tugu perjuangan. Sebuah tugu peringatan yang menandakan bahwa di kawasan tersebut pernah terjadi pertempuran heroik antara pejuang-pejuang Bengkulu melawan Belanda pada masa perang kemerdekaan. Semoga semangat perjuangan mereka tidak luntur tergilas oleh arus zaman. Semoga itu bukan sekedar tugu bisu yang di sebelahnya selalu ramai oleh muda-mudi (termasuk diriku) yang sekedar jalan-jalan. Justru seharusnya kita (kami) meneruskan semangat perjuangan mereka. Sungguh, ini suatu pemandangan yang ideal di mana Sungai Serut sebagai urat pangkal sejarah Bengkulu hadir, dan di sebelahnya terdapat simbol perjuangan. Dua simbol ini hendaknya diketahui dan dimaknai kembali nilai-nilai kesejarahan dan perjuangannya oleh siapapun yang melintasi dan menikmati pemandangan.[]

Bengkulu, 25 Mei 2009

Category: Bengkulu Corner |  72 Comments
Friday, May 22nd, 2009 | Author: suharyanto

Oleh: Suharyanto

         Tepat 20 Mei, bangsa Indonesia kembali memperingati hari yang disebut dengan Kebangkitan Nasional. Hari dimana momen penting dalam babak sejarah nasional Indonesia modern dimulai, yaitu 20 Mei 1908 tatkala dibentukknya organisasi Budi Utomo (BU). Terlepas dari kontroversi, yaitu sebagian tokoh nasional masih memandang bahwa berdirinya BU bukanlah tonggak kebangkitan nasional karena corak BU yang masih bersifat kedaerahan. Kalangan yang kontra tersebut mengajukan hipotesis bahwa kebangkitan nasional hendaknya diawali dari berdirinya suatu organisasi yang bukan bersifat kedaerahan tertentu dan cakupannya nasional Hindia belanda dan ini lebih tepat diatribusikan pada Sarekat Dagang Islam (SDI) tahun 1905. Kelompok ini mengemukakan bahwa SDI lebih bercorak nasional (bukan kedaerahan) dimana kepengurusannya mencakup wilayah Hindia Belanda dan bersifat anti kolonial Belanda.

        Terlepas dari kontroversi, bagaimanapun kebangkitan suatu bangsa seperti Indonesia memiliki arti penting bagi generasi anak bangsa selanjutnya sebagai pedoman memaknai kebangkitan di eranya masing-masing. Jika pada awalnya, kebangkitan yang dimaksud adalah gerakan penyadaran dan kesadaran akan pentingnya persatuan nasional dan perjuangan secara politik maka sekarang adalah bagaimana mengaktrualisasikan nilai-nilai tersebut dalam konteks kekinian bangsa Indonesia. Di era perang kemerdekaan, kebangkitan adalah perlawanan mempertahankan kemerdekaan. Pada masa orde baru lebih dimaknai sebagai upaya pembangunan nasional. Lantas di era reformasi ini haruslah dimaknai dengan nilai-nilai reformasi secara positif.

        Nilai reformasi yang diperjuangkan pada 1998 adalah memperjuangkan kebebasan dari sistem tiranik dan represif. Maka lahirlah demokratisasi seperti yang dirasakan saat ini. Banyak kalangan menilai ini sudah saatnya untuk meninggalkan masa transisi, artinya, proses transformasi dari masa “belum demokratis” menjadi masa yang “lebih demokratis” harusnya sudah lebih bersifat substansial ketimbang prosedural. Sayangnya, masih banyak yang menilai bahwa proses demokratisasi kita masih terbatas pada proses prosedural.  Celakanya, banyak aktor politik yang justru terjebak dan menjustifikasi proses prosedural ini. Prinsip-prinsip berdemokrasi, berpolitik, menyampaikan pendapat dan aspirasi, menjalankan pemerintahan dan lain sebagainya banyak mengabaikan prinsip-prinsip kebaikan dan kebenaran substansial. Semua itu dilakukan karena kepentingan pragmatis semata.

        Apa yang tengah berlangsung akhir-akhir ini, sehubungan dengan momen kebangkitan nasional, maka kiranya perlu direnungkan kembali apakah kita benar-benar sedang bangkit sebagaimana yang dicita-citakan pada awal kebangkitan dan gerakan reformasi digulirkan. Jika dahulu merupakan gerakan penyadaran dan kesadaran nasional mengorganisasikan diri untuk menlenyapkan kolonialisme di Indonesia dengan sebuah kesadaran kolektif nasional, maka sekarang perlu diaktualkan dalam bentuk penyadaran dan kesadaran nasional akan pentinya reformasi, ketebukaan dan demokratisasi yang lebih substansial. Lebih mengedepankan nilai-nilai luhur, etika dan kepentingan nasional. Sebab masih banyak hal yang harus dilakukan ketimbang hiruk-pikuk mabuk kepayang oleh adanya kebebasan saat ini.[]

 

Bengkulu Ekspress, Jumat 22 Mei 2009

Sunday, May 17th, 2009 | Author: suharyanto

Oleh : Suharyanto

Belum begitu lama, Indonesia digemparkan oleh adanya temuan dendeng dan abon babi dengan cap sapi. Kini, seluruh dunia digegerkan dengan adanya flu babi yang disebabkan oleh virus H1N1. Untuk berita yang kedua, layak semua orang panic karena ini terkait dengan kesehatan manusia secara keseluruhan. Sedangkan untuk berita yang pertama, kepanikan dirasakan oleh konsumen muslim. Jelas, karena hewan ini merupakan hewan yang diharamkan secara agama. Barang siapa yang mengkonsumsi sesuatu yang berasal darinya maka balasannya adalah neraka.

Demikianlah kemutlakannya babi. Nah, berhubung merupakan hewan yang benar-benar mutlak keharamannya maka banyak pemuka agama yang mengupas hewan ini dari segi tabiat, perilaku dan dampak negatif yang diakibatkan oleh babi. Terlebih lagi dengan adanya flu babi, ini semakin mengukuhkan nalar keharaman babi. Barangkali karena kecintaannya terhadap umat supaya berhati-hati terhadap satu jenis hewan ini maka tulisan, dakwah dan penjelasan mengenai babi sebegitu dalamnya mulai dari perilaku makan yang menyosor tanah dan comberan, jenis yang dimakan yang begitu menjijikkan seperti cacing dan kotornnya sendiri, hingga ke perilaku seksualnya, yang konon katanya libidonya sangat tinggi dan lain sebagainya. Belum lagi bila dikaitkan dengan sumber penyakit seperti cacing pita. Sudah banyak orang mengatakan bahwa daging babi merupakan tempat tumbuhnya cacing pita. Singkat kata, babi digambarkan sedemikian rupa bahwa hewan ini merupakan hewan yang menjijikkan, jelek, nista dan berbahaya seakan-akan hewan ini membawa sial dan perlu dimusnahkan karena hewan haram.

Kita mungkin lupa bahwa babi, bagaimanapun, adalah makhluk ciptaan Allah juga. Kitapun tahu bahwa segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah itu bukanlah sia-sia, pasti ada maksud dan tujuannya. Jika babi digambarkan sebagai hewan yang suka memakan kotorannya sendiri, kitapun bisa menyaksikan kambing yang juga suka meminum air kencingnya sendiri. Perilaku ini tidaklah aneh bagi dunia hewan. Kambing membutuhkan zat-zat tertentu yang bisa didapat dari air kencingnya. Tentang cacing pita, kambing dan sapi juga tempat yang baik bagi berkembangnya cacing pita. Jika ada flu babi maka ada juga flu burung (ayam). Jadi, sama saja. Oleh karenanya justifikasi mengapa babi haram bukanlah sifat-sifat dan kebiasaan-kebiasaan jelek (menurut ukuran manusia), dan sehat atau tidaknya dagingnya. Kita tidak tahu pasti kenapa babi haram. Yang jelas di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa babi adalah haram, titik. Tidak perlu penjelasan yang diilmiah-ilmiahkan. Malah bias kontra produktif karena sifat dan perilaku jelek babi juga ditemui pada hewan lain yang halal.

Perlu diketahui, babi yang umum dikonsumsi orang-orang barat adalah daging babi yang berasal dari peternakan terbaik dimana babi-babi tersebut diberi pakan yang kualitasnya justru lebih baik daripada kualitas makanan rata-rata orang Indonesia. Jadi, justru babi-babi itu memakan makanan yang baikl, tapi yang namanya haram ya tetap haram. Tidak perlu penjelasan yang sok diilmiah-ilmiahkan.

Satu hal lagi, berdasarkan temuan ilmiah, justru struktur DNA babi mirip dengan DNA manusia. Banyak penelitian obat sebelum diaplikasikan ke manusia, diaplikasikan ke babi terlebih dahulu. Lagi pula, organ-organ penting babi mirip dengan manusia, jenis makanan babi dengan manusia juga sama, system pencernaan babi juga sama dengan manusia yaitu sama-sama monogastrik (berlambung tunggal) dan ini berbeda dengan kambing, sapi, kerbau dan domba yang berlambung ganda (poligastrik). Konskuensi dari perbedaan jenis perut ini adalah pada jenis makanannya. Jika sama jenis perutnya maka makananannya juga memiliki kesamaan jenis.

Jadi keharaman babi tidaklah bias dijelaskan secara nalar. Haram ya haram. Tetapi bukan berarti menistakan babi begitu saja seakan-akan makhluk satu ini harus dimusnahkan dari muka bumi. Allah telah menciptakan makhluk dengan tujuan-tujuan tertentu, tanpa kesia-siaan.[]

Bengkulu Ekspress, Jumat 15 mei 2009.

Friday, May 08th, 2009 | Author: suharyanto

Oleh: Suharyanto

Akhirnya, setahap demi setahap, setapak demi setapak penghitungan suara pemilihan umum legislatif sudah dilakukan. Banyak kalangan menilai bahwa penghtungan suara pemilu kali ini berjalan sangat lambat, alot, banyak protes sana-sini dan kekisruhan-kekisruhan lainnya. Belum lagi bila ditambah dengan keksruhan Daftar Pemilih Tetap, maka pemilu kali ini dinilai paling buruk dalam sejarah pemilu di Indonesia.

Kembali pada penghitungan suara. Jika pemilu sebelumnya, persaingan kandidat lebih kepada persaingan antar partai maka kali ini justru persaingan yang amat ketat dan berat adalah persaingan antar kandidat dalam satu partai. Sudah menjadi rahasia umum bahwa intrik-intrik untuk menuju kursi legislatif amatlah menyeramkan. Telikung sana,telikung sini. Bahkan, konon, terjadi pengalihan perolehan suara dari satu kandidat ke kandidat lain dalam satu partai. Memang, jumlah suara parpol secara keseluruhan tidaklah berubah, tetapi yang berubah adalah orang yang akan mewakili partai ke kursi legislatif. Jadi, “musuh” utama adalah teman separtai. Oleh karenanya, tidak sedikit kandidat yang merasa “dicurangi” justru bersahabat dekat dengan kandidat dari partai lain yang juga merasa dicurangi oleh teman separtainya.


Ternyata aroma telikung menelikung ini terjadi marak dan massal. Siapapun pasti akan melakukannya demi kursi legislatif. Apa lagi, para kandidat kali ini lebih banyak diisi oleh orang yang sebenarnya “sedang mencari pekerjaan”. Bukan oleh mereka yang memang terjun di dunia politik sebagai pengabdian hidupnya. Kepentingan pragmatis jangka pendek lebih mengemuka ketimbang kepentingan khalayak ramai sesuai dengan idealisme berpolitik, berbangsa dan bernegara. Wajar pula bila banyak kalangan yang menilai bahwa para penikmat kursi legislatif kali ini tidak lebih baik dari yang lalu.


Logika politik nasional kita memang suatu anomali dalam teori dan praktik politik di muka bumi. Sistem pemerintahan yang dianut adalah presidensial tetapi praktiknya parlementer. Politisi, pejabat, atau tokoh yang sebelumnya berseberangan, tiba-tiba bersahabat dekat, begitu pula sebaliknya. Semua terjadi secara tiba-tiba dan mengejutkan dan keterjadiannya lebih kepada kepentingan personal, tetapi mampu menarik gerbong politik. Konon yang katanya bernama koalisipun tak ubahnya hanya bikin blok-blokan yang dilandasi kepentingan pragmatis dan amat personal. Tidak ada “koalisi” berdasarkan platform, ideologi dan kesamaan cara pandang mengelola negara. Sepertinya dbutuhkan teori politik tersendiri untuk menjelaskan fenomena perpolitikan yang terjadi di Indonesia. Jika Miriam Budiarjo masih ada, beliau tentu akan mengecualikan praktik perpolitikan kita dalam bukunya teori politik, saking anomalinya sistem kita.


Barangkali karena berawal dari anomali yang demikian maka di bagian hilirnyapun terjadi penyimpangan. Semua mengalami penyimpangan tak terkecuali. Di kedai-kedai kopi, tempat nongkrong-nongkrong sekelompok orang, pembicaraan selalu terfokus pada kecurangan si A terhadap si B dalam satu partai. Katanya si A mestinya suaranya tidak sebanyak itu. Begitulah. Tetapi ada juga yang menimpali, sebenarnya si B pun melakukan hal yang sama, hanya si B kalah curang dibanding dengan si A.[]


Bengkulu Ekspress, Jumat 8 Mei 2009

Thursday, April 30th, 2009 | Author: suharyanto

Oleh: Suharyanto

Minggu-minggu ini, dunia pendidikan kita tengah disibukkan dengan penyelenggaraan Ujian Nasional (UN), baik tingkat SLTA maupun SLTP. Untuk tingkat SLTA telah berlangsung minggu lalu dan kita dikejutkan dengan adanya berita perbuatan curang beberapa oknum kepala sekolah dan guru untuk alasan “menolong” siswanya supaya mendapatkan nilai yang baik.

Mengapa sampai terjadi “perbuatan tidak terpuji” seperti itu? Bukankah kejadian serupa pun terjadi pada UN tahun lalu, dimana beberapa oknum guru tengah mengerjakan soal UN untuk menggantikan hasil kerjaan siswanya dan kemudian tertangkap tangan oleh Densus 88 antiteror. Tidakkah hal tersebut mejadikan pelajaran berharga? Belum lagi bentuk-bentuk kecurangan yang lain yang mungkin tidak kita temui tetapi dapat “dirasakan” aromanya.
Mengapa tiap kali pelaksanaan UN banyak pihak mengalami stress, mulai dari orang tua murid, guru dan bahkan kepala sekolah? Bagi orang tua murid jelas mereka cemas, takut putra-putrinya tidak lulus. Bagi guru dan kepala sekolah barangkali terkait dengan reputasi diri dan sekolah yang bersangkutan. Belum lagi bila keberhasilan (dengan tingkat kelulusan tertentu), taruhannya adalah kedudukannya, jelas ini merupakan sesuatu yang “masuk akal” bila kemudian guru dan kepala sekolah merasa was-was dengan hasil UN.

Apakah hal tersebut merupakan justifikasi pentingnya pengawas dan pemantau independent dalam UN? Seperti kita ketahui, akhir-akhir ini, pelaksanaan UN harus diawasi oleh Pengawas Independen untuk ”menjamin” pelaksanaan UN berlangsung dengan fair. Walaupun ini tidak menjadi jaminan karena kebocoran bisa terjadi di banyak lini yang tidak terjangkau oleh pengawas independen. Namun dengan adanya pengawas independen menunjukkan bahwa paling tidak pelaksanaan UN yang sudah-sudah dicurigai tidak berlangsung dengan jujur, sebagaimana terlihat dari beberapa kasus dalam UN.

Yah, itulah keprihatinan kita. Kejujuran pelaksanaan UN sudah diragukan sehingga perlu adanya pengawas independen. Laksana pemilu saja, yang memerlukan pengawas dan pemantau independen demi pemilu yang LUBER. Jika dari tingkat sekolah sudah diawali dengan ketidakjujuran, lantas bagaimana dengan kelanjutannya? Inilah krisis pendidikan kita yang sesungguhnya. Sekolah, atau tepatnya pendidikan sudah menjadi objek penderita. Sekolah sudah menjadi ajang permainan pejabat politik, lebih-lebih menjelang pemilu, para petinggi daerah mematok target tertentu. Kedudukan guru dan kepala sekolah menjadi terancam oleh tindakan politis para pejabat politik sehingga untuk mengamankan kedudukannya bertindaklah di luar kejujuran, kasak-kusus tak tentu arah. Nilai-nilai kemandirian dan kejujuran dalam proses pendidikan selama tiga tahun hilang seketika hanya beberapa hari. Proses pendidikan yang juga berlangsung selama 3 tahun harus ditentukan oleh ujian ”kognitif” beberapa hari saja. Sekolah (guru dan kepala sekolah) benar-benar tidak memiliki akses untuk menilai dan menentukan kelulusan murid. Padahal mereka yang tahu persis akan siswa-siswanya. Sebuah sistem yang patut untuk dievaluasi.[]

Bengkulu Ekspress, Rabu 29 April 2009

Tuesday, April 28th, 2009 | Author: suharyanto

Oleh: Suharyanto

Usai sudah hajatan lima tahunan, pemilihan umum legislatif. Kini kita tinggal menunggu hasil perolehan secara resmi dari KPU meskipun prediksi yang dilakukan oleh lembaga-lembaga survey telah pula dipublikasikan. Selanjutnya kitapun menunggu pemilihan umum presiden bulan Juli mendatang.

Pemilihan legisltaif telah berlalu dengan segala cerita amburadul dan kesuksesan yang saling seiring berjalan. Di sela-sela carut marut dan klaim kesuksesan, saya sempat mendapati adanya cerita menarik, lucu tepatnya, seputar pencontrengan. Setelah selai mencontreng, 4 April 2009 – setelah mengantri lama – saya menemui beberapa masyarakat ibu-ibu yang, maaf, kurang berpendidikan. Macam-macam cerita yang keluar dari mereka. Ada yang karena grogi, akhirnya asal mencontreng tanpa mengetahui siapa yang harus dicontreng. Ada juga yang mencari-cari nama kandidat tidak ketemu-ketemu akhirnya dipilihlah yang mudah terbaca saat itu. Nah, ada juga yang bingung mencari kandidat yang kebetulan nama panggilannya bukan nama yang sebenarnya sebagaimana tertera dalam kartu suara. Ini yang juga mencelakai perolehan suara si kandidat.

Untuk yang terakhir ini kejadiannya cukup sering. Kandidat yang terlanjur terkenal dengan nama alias, misalnya namanya X, tapi terkenal dengan sebutan Buyung Gondrong, sekali lagi ini misal. Maka puaslah pemilih itu mencari-cari nama Buyung Gondrong, dan memang tidak akan pernah ada di kartu suara. Ada juga orang yang misalnya bernama “Lazuardi”, dari kata tersebut terpanggilah menjadi “Edi”. Nah, kebetulan ada lebih dari satu “Edi” sehingga ada tambahan panggilan, umpamanya jenis pekerjaannya, sifatnya, performansnya dan lain-lain. Apa lagi bagi masyarakat kita, sebagaimana Andrea Hirata katakana dalam tetraloginya Laskar Pelangi bahwa masyarakat Melayu suka memberi julukan pada orang dengan menambah-nambahkan panggilan sesuai dengan karakter, profesi, kejadian penting dan lain-lain. Maka tak pelak lagi si “Edi” tadi mendapat tambahan panggilan, katakanlah ”Mancung” karena hidungnya yang mancung. Maka jadilah ia dipanggil Edi Mancung.

Maka, sekalipun ia menuliskan nama asli yang diberi kurung nama panggilan dalam sosialisasi dan kampanye melalui stiker, spanduk, baliho dan lain-lain, masyarakat terutama kalangan bawah tidaklah secara otomatis faham bahwa orang tersebut nama aslinya adalah berbeda dengan panggilan. Jadinya dengan berlama-lama mencari nama Edi Mancung tidaklah akan ketemu. Inilah, bahwa nama Edi Mancung sudah melekat di alam bawah sadar masyarakat kalangan bawah, karena julukan atau panggilan inilah yang selalu hadir di pikiran dan perasaan orang sekitarnya. Ini sudah sedemikian melekat sehingga tidak bisa secara cepat menemukan atau mengenali kembali bahwa nama sang kandidat yang akan dipilih namanya bukan Edi Mancung, melainkan Lazuardi. Suatu nama yang tidak menyangkut secara persis, berbeda misalnya namanya Edi XXXX yang jelas-jelas mengandung kata Edi.

Inilah sedikit pernak-pernik pemilu kali ini.