25 Sep

Perubahan Paradigma Penyuluhan

Oleh: Suharyanto

Tidak diragukan lagi, peran penyuluhan dalam setiap program pemerintah sangatlah penting. Hal ini tertera dari bagaimana sejarah perkembangan penyuluhan, khususnya di Indonesia. Dan, setiap pemerintahan pasti menginginkan program-programnya, terutama untuk pembangunan, berhasil. Nah, oleh karenanya penyuluhan memiliki peran penting agar program-program pembangunan pemerintah bisa berhasil.

Sesaui dengan namanya, penyuluhan berasal dari kata “suluh” yang berarti obor penerang. Dalam khazanah Indonesia, kata ini berasal dari bahasa Belanda “Voorlichthing”, yang artinya lebih kurang “penerangan”. Namun dalam khazanah negara Anglo atau bekas jajahannya, penyuluhan lebih tepat dikatakan sebagai “pengembangan”, “penambahan” atau “perluasan”, yaitu berasal dari kata ‘extension”.

Continue Reading »

21 Sep

Narsis

Oleh: Suharyanto

“Pengen Eksis…? makanya Narsis…!”

Pernah mendengar kalimat tersebut? Ya, mungkin sebagian besar pembaca sudah pernah mendengar atau melihatnya. Ya, itu adalah iklan salah satu kartu GSM yang namanya nyaris sama dengan kata “eksis”.

Eksis, tepatnya berasal dari bahasa Inggris, exist, yang artinya lebih kurang “ada”, atau “wujud”. Nah, jika anda ingin dianggap ada atau eksis maka anda harus bertindak narsis. Demikianlah kira-kira pesan iklan tersebut.

Nah, kenapa mesti narsis? Apa itu narsis?

Continue Reading »

08 Sep

Olimpiade

Oleh: Suharyanto

 

Dewasa ini istilah “olimpiade” cukup sering mengemuka di media, dunia pendidikan, percakapan mahasiswa dan pelajar, percakapan para orang tua, dan masyarakat luas. Mengapa demikian? Karena istilah olimpiade muncul bukan hanya pada even olah raga, tetapi pada jenis perlombaan non olah raga, termasuk perlombaan kecerdasan dan ketangkasan dalam bidang studi mata pelajaran maupun mata kuliah.

Dulu, olimpiade hanya terkait dengan even olah raga dan memang ada lembaga yang menaunginya, yaitu Komite Olimpiade International atau International Olympic Committee (IOC). IOC di dirikan pada tahun 1894 untuk menyelenggarakan pertandingan olah raga antar negara setiap 4 tahun.

Continue Reading »

06 Sep

Anekaria Idul Fitri 1432 H

Oleh: Suharyanto

Bukan baru kali ini saja, hari raya Idul Fitri dilaksanakan secara tidak serentah oleh kelompok-kelompok umat di Indonesia, bahkan dunia. Ya, tahun ini secara umum ada yang menetapkan Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus dan ada yang 31 Agustus. Selain itu ada juga yang menetapkan 29 Agustus dan 1 September, sekalipun minoritas.

Continue Reading »

23 Aug

Menulis Surat Untuk Pemimpin Negara

Oleh: Suharyanto

Ada yang pernah berkenginan atau telah mengirim surat kepada pemimpin suatu negara? Baik pemimpin negara sendiri maupun negara lain? Apa kira-kira perasaan orang yang mengirim surat kepada pemimpin negara dan kemudian mendapat balasan? Senang, sedih, atau apa? Tentu saja tergantung dengan maunya si pengirim dan bagaimana balasan dari pemimpinnya. Continue Reading »

16 Aug

Mukjizat

Oleh: Suharyanto

 

Malam ini adalah malam berharga bagi umat manusia, yaitu 17 Ramadhan sebagai hari pertama turunnya “Kitab Bacaan” umat manusia. Turunnya Kitab Bacaan tersebut maka kita diwajibkan “membaca”-nya. Dengan membaca Kitab Bacaan tersebut maka umat manusia akan selamat dunia akhirat. Memang, Kitab Bacaan tersebut berupa petunjuk kepada keselamatan.

Sayang, seringkali umat manusia salah dalam membaca. Banyak manusia membacanya secara sepotong-sepotong sehingga hasilnya juga sepotong-sepotong. Sepotong orang ada yang baik, sepotong lagi ada yang buruk perilakunya. Ada yang memiliki nama baik sebagaimana nama yang dianjurkan oleh para nabi, tetapi perilakunya korup, perusak, nista dan hina. Inilah akibta pembacaan Kitab Bacaan sebagai mukjizat yang tidak komprehensip.

Kita akhir-akhir ini disuguhi dengan serangkaian drama korupsi, suap, penyelewengan kewenangan dan lain-lain. Drama yang sedang menarik perhatian publik adalah kasus Muhammad Nazarudin, sekalipun banyak kasus serupa yang terjadi di negeri ini. Diskusi dan dialog, forum dan talk show dan lain-lain digelar. Berbagai istilah, asumsi. pendapat dan tetek bengek sampai bengek netek, ujung-ujungnya tidak ada penyelesaian menyeluruh. Rakyat hanya dibuat bingung oleh panggung sandiwara itu semua. Huh… []

 

Bengkulu, 16 Agustus 2011 (17 Ramadhan 1432 H)

23 Jul

Karunia

Alhamdulillah, wahai Tuhan Semesta Alam
Karunia-Mu telah Engkau tunjukkan
Setelah satu windu dalam pengharapan

Wahai Tuhan Penguasa siang dan malam
Puji syukur kami panjatkan
atas Karunia-Mu berupa kepercayaan

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa
Kupuja Engkau sepanjang masa

(Bengkulu, 23 Juli 2011; syukur kami atas anugerah terindah dalam beregenerasi)

14 May

Lomba Blog

Oleh: Suharyanto

Universitas Bengkulu (Unib), dalam rangka memperingati ulang tahunnya yang ke-29 tahun 2011 menggelar lomba blog dosen. Lomba ini dimaksudkan sebagai media untuk meningkatkan pemanfaatan Teknologi Informasi  sebagai pendukung pembelajaran. Menurut panitia pelaksana, bahwa salah satu teknologi informasi yang dapat dimanfaatkan adalah internet. Melalui internet dosen dapat memperkaya media penyampaian materi kepada mahasiswa dengan membuat blog. Dengan memanfaatkan blog ini diharapkan materi yang diserap mahasiswa akan lebih besar lagi dan pada gilirannya meningkatkan mutu belajar mahasiswa.

Tentu saja, karena kebetulan penulis memiliki alamat blog, yaitu blog ini dan ada satu blog khusus tentang bidang ilmu peternakan, penulis tertantang untuk mengikutsertakan alamat blog tersebut dalam lomba blog dosen. Tepat sekitar akhir Maret 2011 (pendaftaran sekitar bulan Maret 2011), penulis daftarkan alamat blog itu ke panitia untuk diseleksi dalam lomba blog. Pada mulanya hanya terpikir untuk menyemarakkan kegiatan peringatan ulang tahun Unib. Tapi ternyata, pada acara penutupan pelatihan Active Learning (6 Mei 2011), diumumkan para pemenang lomba blog dosen yang diselenggarakan dalam rangka dies natalis ke-29 Unib. Dalam sambutannya, Pembantu Rektor bidang akademik, Ir. Fahrurrozi, M.Sc., Ph.D, sekalu ketua panitia dies natalis ke-29 Unib menyampaikan bahwa kriteria penilaian mencakup konten, tampilan dan kemanfaatan bagi pengguna. Berdasarkan kriteria tersebut maka ditetapkan pemenangnya sebagai berikut:

Juara I adalah Prof. Ir. Urip Santoso, M.Sc., Ph.D (http://uripsantoso.wordpress.com)

Juara II adalah Suharyanto, S.Pt., M.Si (http://suharyanto.wordpress.com)

Juara III adalah Dr. Agus Trianto (http://agustrianto17.blogspot.com)

Juara IV adalah Prof. Ir. Nanik Setyowati, M.Sc (http://www.nanik.al-unib.net)

Juara V adalah Yansen, S.Hut., M.Sc (http://gfgchron.wordpress.com)

Juara VI adalah Drs. Hery Haryanto, M.Sc. (http://h2aryanto.wordpress.com)

Ternyata penulis menjadi juara kedua! Tak pernah terpikirkan! Semoga saja ini menjadi motivasi untuk penulis semakin lebih baik dalam hal memanfaatkan teknologi informasi untuk kebaikan.[]

Bengkulu, 14 Mei 2011

08 Feb

Bunga Rafflesia Bukan Bunga Bangkai

Oleh:  Suharyanto

Bagi masyarakat Bengkulu, nama bunga Rafflesia sudah tidak asing walaupun sebagian besar masyarakatnya juga belum pernah melihatnya. Ya, puspa ini sudah menjadi ikon Provinsi Bengkulu, sudah identik dengan daerah ini. Tak heran bila simbol-simbol di Bengkulu bercorak dasar kelopak bunga Raflesia. Bunga ini memang sudah dikenal oleh masyarakat sebagai bunga khas Bengkulu.  Walaupun sebenarnya, jenis lain dari bunga Raflesia bisa ditemui di daerah lain di Sumatera, Semenanjung Melayu dan Borneo.

Bunga ini cukup terkenal bukan hanya bagi masyarakat Bengkulu, tetapi bagi masyarakat luar Bengkulu. Paling tidak bagi anak-anak SLTA di wilayah provinsi tetangga mengetahui bahwa puspa langka ini merupakan ikon dan khas milik Bengkulu. Ketika saya melakukan “kunjungan” ke beberapa kabupaten di wilayah Sumatera Selatan, tepatnya di sekolah-sekolah SLTA, saya menanyakan tentang ikon Bengkulu kepada para siswa kelas tiga SLTA, dan hampir semuanya tahu bahwa jawabannya adalah Bunga Raflesia. Sebagai orang Bengkulu, tentu saja ini menyenangkan ada orang lain yang mengetahui tentang bunga khas Bengkulu itu.

Bunga Bangkai

Namun ada hal yang perlu diluruskan. Ketika ditanya tentang bunga Bangkai maka hampir semuanya menjawab bahwa Bunga Bangkai adalah Bunga Raflesia. Jelas suatu pemahaman yang keliru. Namun itu bukan hanya kekeliruan pemahaman para siswa saja, sekilas para gurunyapun seperti tidak tahu bahwa bunga Raflesia bukanlah bunga Bangkai. Demikian juga, pernah saya menonton TV dan kebetulan sedang menampilkan “bunga Bangkai” yang tumbuh di pekarangan rumah warga dan menjadi tontonan warga. Sayang, seribu sayang, penyiar TV menyebutkan bahwa itu adalah bunga Raflesia dengan lengkap menyebutkan nama latinnya. Padahal gambar yang ditayangkan adalah gambar bunga Bangkai. Jelas hal tersebut merupakan informasi yang menyesatkan. Kejadian seperti itu di TV bukanlah baru sekali atau dua kali saya temui, melainkan sudah beberapa kali. Artinya, banyak yang masih rancu memahami bunga Raflesia dan bunga Bangkai.

Ketika saya menjelaskan kepada anak-anaka SLTA  dalam kunjungan tersebut di atas, saya menegaskan bahwa bunga Bangkai bukan bunga Raflesia. Bunga Raflesia TIDAK SAMA DENGAN bunga Bangkai, jelas saya. Mereka terperangah bahwa ternyata selama ini mereka telah keliru memahami kedua bunga tersebut.

Memang, bunga Raflesia dan bunga Bangkai sama-sama tumbuh dengan baik di Sumatera dan khususnya Bengkulu. Tentu saja dijumpai pula di kawasan lain di Asia tenggara ini. Kedua bunga ini juga mampu menimbulkan bau “busuk” seperti bangkai karena kemampuannya “memikat” serangga dan akhirnya mati menjadi bangkai. Namun perbedaannya juga sangatlah banyak.

Bunga Raflesia, atau disebut juga padma Raksasa adalah sejenis parasit. Tumbuhan ini tidak memiliki akar, batang dan daun. Karena tidak memiliki daun maka tidak bisa melakukan fotosintesis. Kebutuhan akan makanan diperoleh dari tumbuhan inang melalui jaringan yang merambat di tumbuhan inang. Tumbuhan ini, khususnya Rafflesia arnoldii, tumbuh dengan baik di kawasan hutan Sumatera. Bunga ini memiliki kelopak 5 buah dengan ukuran besar. Bunga ini merupakan bunga terbesar di dunia dimana ketika ia pada puncak mekarnya, diameternya bisa mencapai 1 m dengan lama mekar selama lebih kurang 7 hari.

Secara nomenklatur dalam klasifikasi ilmiah, bunga Raflesia yang tumbuh di Bengkulu adalah sebagai berikut:

Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Rafflesiales
Famili: Rafflesiaceae
Genus: Rafflesia
Spesies: Rafflesia arnoldii

Bunga Rafflesia

Lalu seperti apakah bunga bangkai itu? Bunga bangkai ada yang menyebutnya sebagai Suweg Raksasa atau Bunga Kibut. Tumbuhan ini juga tumbuh dengan baik di hutan hujan tropis seperti Bengkulu dan Sumatera Bagian Selatan. Bunga ini dicirikan dengan adanya seludang yang besar dan dikelilingi dengan kelopak bunga yang menjulang dan melebar jika pada keadaan mekar. Jenis yang sering dijumpai di Bengkulu adalah Amorphophallus titanum.

Jenisini merupakan keluarga talas-talasan (Araceae) dalam nomenklatur klasifikasi ilmiah. Dalam siklus hidupnya memiliki dua fase, yaitu fase vegetatif dan fase generatif. Fase vegetatif ditandai dengan munculnya daun dan batang semu. Fase ini bisa mencapai waktu beberapa tahun. Fase generatif ditandai dengan kemunculan buah hasil penyerbukan setelah bunga mekar dan layu. Waktu bunga mekar dapat mencapai lamanya satu minggu dan bunga memiliki tinggi mencapai hampir 3 meter. Masa mekar bunga mencapai seminggu, setelah itu menjadi layu.

Demikian, semoga bisa menambah wawasan dan mampu meluruskan pemahaman antara bunga Bangkai dengan bunga Rafflesia. (dihimpun dari beberapa sumber, foto dari internet)

30 Sep

Nasi Diberi Coklat

Oleh: Suharyanto

Suatu ketika, saya dan beberapa teman sedang bincang-bincang ringan mengenai budaya nasional termasuk makanan-makanan khas di daerah masing-masing. Kebanyakan kami menyukai makanan tradisional akan tetapi sudah jarang dijumpai. Kita hanya bisa menjumpainya ketika momen-momen tertentu, seperti lebaran, atau hari raya lainnya, adanya hajatan dari sanak saudara atau tetangga. Atau pada acara khusus. Inipun sudah mulai digeser dengan jenis makanan-makanan “modern”.

Nah, tanpa disekenariokan, salah satu teman ini membawa anak perempuannya yang berumur lebih kurang 5 tahunan. Si Anak membawa sekotak makanan di dalamnya berisi beberapa jenis makanan. Ketika saya lihat dan buka kemudian saya, sambil bercanda kepada si anak, bertanya nama makanan di dalam kotak. Pertama saya bertanya “ini apa namanya” dengan menunjuk jenis makanan berwarna merah menyala berbentuk panjang dan kenyal diselipkan di dalam roti. Langsug si Anak menjawab dengan cepat “sosis”. Benar, kata saya dalam hati. Kemudian saya tujuk sepotong makanan berbentuk jajaran genjang terbuat dari beras berwarna coklat “kalau yang ini apa namanya?”. Si Anak terdiam berpikir kemudian menjawab “nasi diberi coklat”.

Saya tertawa begitu mendengarkan jawaban si Anak teman tersebut. Tertawa bukan untuk mencemoohkan si Anak, tetapi lucu juga mendengar jawabannya yang polos dan deskriptif. Anak itu memang tidak tahu namanya, yaitu wajik. Si Anak hanya mencoba mendeskripsikan dengan mengatakan nasi yang diberi coklat. Sebenarnya bukan coklat, melainkan gula merah sehingga berwarna kecoklatan. Bahan utamanyanya memang beras (nasi) sehingga si Anak menyebut nasi. Demikianlah cerita yang kemudian menggugah pikiranku untuk menulis ini.

Dari cerita di atas, terlihatlah bahwa makanan-makanan tradisional tidak diketahui oleh anak-anak jaman sekarang. Anak-anak lebih mengenali makanan-makanan “baru” dalam khazanah makanan di Indonesia seperti sosis, yogurt, spageti, jelly, dan lain sebagainya. Anak-anak memang tidak salah karena iklan jenis makanan “baru” tersebut amatlah massif dan terus menerus. Setiap kali anak menonton televisi, maka mereka disuguhkan tayangan sosis, yogurt, jelly dan lain sebagainya. Mereka tidak pernah melihat wajik, dadar gulung, lemper, apam dan lain sebagainya. Para orang tuapun sudah berkurang mengenalkan jenis-jenis makanan tradisional kepada anak-anaknya.

Akankah ke depannya makanan khas Indonesia terlupakan oleh generasi mendatang?

Bengkulu, 30 September 2010.

© 2012 Suharyanto’s Journal