Archive for » June, 2008 «

Thursday, June 26th, 2008 | Author: suharyanto

Oleh: Suharyanto

 

            Sebutan Indon bagi kita oleh orang dari negeri jiran sangat tidak bisa kita terima. Sebutan ini berkonotasi “merendahkan” martabat. Walaupun negeri tetangga kita menyangkal bahwa itu bermaksud merendahkan, tetapi dalam faktanya sebutan Indon lebih sering digunakan kepada orang Indonesia yang memang “rendah” dalam pandangan mereka, terutamanya para buruh (TKI). Soalnya, setidaknya dalam berbagai milis orang Malaysia, mereka tidak menyebutkan Indon kepada orang Indonesia untuk pengertian menghormati karena orang Indonesia tersebut berprestasi, misalnya. Kemudian, sebutan Indon diatributkan kepada semua perilaku dan fakta “negatif” orang Indonesia, seperti kriminal, bodoh, miskin. more…

Thursday, June 19th, 2008 | Author: suharyanto

Oleh: Suharyanto

 

            Histrionik merupakan gejala kejiwaan. Menurut psikolog, orang dengan kepribadian histrionik akan berupaya menarik simpati dari lingkungan sekitarnya untuk memahami dan mengerti akan dirinya dengan berbagai cara. Cara yang dilakukan biasanya bersifat memanipulasi lingkungan sebanyak-banyaknya sehingga berkesan seperti sesungguhnya terjadi. more…

Friday, June 13th, 2008 | Author: suharyanto

Oleh: Suharyanto

Siapa yang tidak tahu Jalur Gaza dan intifada? Ya, keduanya merupakan nama yang erat kaitannya dengan Palestina, khususnya dalam terminologi perjuangan melawan pendudukan Zionis Israel. Jalur Gaza merupakan nama tempat yang bagi kita cukup populer karena hampir setiap berita dunia nama ini menominasi pemberitaan dan penderitaan. Tempat ini merupakan tempat yang paling menderita di bawah penjajahan Zionis. Bila disebutkan kata intifada maka yang terlintas di benak kita adalah lemparan batu. Intifada merupakan semangat dan cara perjuangan rakyat Palestina melawan penjajah Israel dengan melakukan lemparan batu kepada serdadu Zionis. Karena tidak memiliki senjata maka batupun bisa menjadi senjata. “Tiada rotan akarpun jadi” menurut pepatah. more…

Monday, June 02nd, 2008 | Author: suharyanto

Oleh: Suharyanto

Pada era 90-an ada buku yang cukup menggemparkan Indonesia terkait dengan persatuan dan kesatuan bangsa. Buku Global Paradox karya John Naisbitt, seorang futuris, merupakan buku fenomenal dan menjadi international best seller. Buku ini menggambarkan betapa pada saat dunia sedang menguraikan batas-batas negara menjadi negara yang nyaris borderless, pada saat yang sama tengah terjadi pembentukan negara-negara baru. Sebagai indikator ekstrim yang digambarkannya adalah globalisasi yang ditandai dengan terbentuknya Uni Eropa, perdagangan bebas dan lain sebagainya. Paradoksnya ditandai dengan tebentuknya negara-negara baru pecahan Uni Soviet dan Eropa Timur. Jadi pada saat dunia tengah mengupayakan menjadi “satu” pada saat itu juga tengah terjadi nasionalime baru di kawasan Balkan, eks Uni Soviet dan Eropa Timur. Terbentunya negara-negara baru ini yang mengkhuatirekan buat Indonesia. Inilah Golbal Paradox-nya John Naisbitt. more…

Monday, June 02nd, 2008 | Author: suharyanto

Oleh: Suharyanto

 

            Rasanya hampir semua orang Indonesia dewasa memahami arti “makan asam garam”, yaitu banyak pengalaman, kenyang dengan pengalaman hidup baik dalam bentuk suka maupun duka. Masing-masing orang memiliki pengalaman yang berbeda-beda, demikian juga suatu kelompok, masyarakat, organisasi, dan bahkan negara dan bangsa. more…