Archive for » November, 2008 «

Monday, November 17th, 2008 | Author: suharyanto

Oleh : Suharyanto

 

          Tidak terasa memang, setahun seudah kita melewati haji tahu lalu. Kini sudah mulai memasuki musim haji lagi. Siapa orangnya yang tidak menginginkan menunaikan ibadah Haji? Setiap individu muslim pasti menginginkan dirinya bisa menunaikan rukun Islam yang kelima tersebut. Sayangnya syarat menunaikan idabah ini relative berat dari peryaratan ekonomi. Wajar, hanya beberapa orang saja dari kalangan umat Islam yang mampu menunaikannya.

          Meskipun berbiaya mahal, jemaah haji Indonesia selalu meningkat dari tahun ke tahun. Sepertinya tidak ada krisis finansial. Sesuatu yang patut disyukuri bahwa saudara-saudara kita masih diberi kesempatan untuk menunaikan ibadah haji ini. Kita yang belum sempat hanya turut mendoakan semoga saudara kita yang mampu menunaikannya akan menjadi Haji Mabrur. Dan kita akan segera menyusul menunaikannya di masa-masa mendatang apabila diberi rezeki dari Allah.

          Ibadah Haji bisa dikatakan puncak dari segenap rukun Islam. Dalam menunaikan ibadah Haji seseorang dituntut memiliki kemampuan yang memadai, yaitu financial, fisik, mental dan jiwa. Berbeda dengan jenis ibadah yang lain yang bisa dilakukan tanpa ada persyaratan “kemampuan” tersebut. Mengingat pentingnya ibadah Haji, tak heran berbagai kupasan tentang Haji dan makna dibaliknya dikupas dalam berbagai buku.

          Suatu kegembiraan bagi kita ternyata secara kuantitas jumlah jemaah Haji kita meningkat. Sayangnya ini belum mencerminkan dampak positif dari peningkatan jemaah haji kita. Peningkatan kesalehan pribadi yang kuantitif ini belum menyertakan peningkatan kesalehan sosial. Ini bisa dilihat dari penyelewengan oleh penyelenggara nagara dari semua tingkat dan lini yang justru dilakukan oleh orang yang notabene sering beribadah haji.

Ketika berhaji, jemaah telah melakukan pelemparan batu sebagai simbol melempari iblis angkara murka, maka ketika kembali di tanah air hendaknya mampu melempari iblis-iblis yang bercokol dalam sendi-sendi kehidupan nasional kita. Ketika berhaji, jemaah melakukan lari-lari kecil dari satu bukit (Safa) ke bukit lainnya (Marwa) untuk mencari air kehidupan dan diperolehnya, hendaknya ketika kembali di tanah air mampu memancarkan kebaikan dan kebenaran tanpa kenal lelah. Inilah yang akan menyelaraskan peningkatan jumlah jemaah haji dengan penurunan tingkat penyimpangan sosial-politik bangsa Indonesia. Malah terkadang sedang “ngetren” bagi mereka yang sedang tersandung hokum lalu menunaikan ibadah haji!

Barangkali karena itulah maka salah seorang penyair Persia, Nasher Khosrow, mengatakan ”Wahai Sahabat! Sesungguhnya engkau belum menunaikan ibadah haji!// Sesungguhnya engkau belum taat kepada Allah!// Memang engkau telah pergi ke Mekah untuk mengunjungi Ka’bah!; Memang engkau telah menghamburkan uang untuk membeli kerasnya padang pasir!// Jika engkau berniat akan menunaikan ibadah haji sekali lagi, Berbuatlah seperti yang telah aku ajarkan!”. Khosrow bukanlah sedang mengajarkan ajaran baru tentang Haji, melainkan bagaimana memaknai ibadah haji dan implikasinya dalam kehidupan.[]

 

Bengkulu Ekspress, 14 November 2008

Monday, November 10th, 2008 | Author: suharyanto

Tulisan kali ini merupakan tanggapan atas artikel yang ditulis oleh tim sentral ternak pada situs web-nya: http://www.sentralternak.com. Pada web tersebut admin menulis perlunya melindungi ternak asli Indonesia. Saya sangat tertarik dengan artikel tersebut. Kemudian saya tanggapi di web tersebut pula. Namun demikian, saya merasa perlu untuk menampilkannya juga di sini.

Berikut ini adalah artikel dari http://www.sentralternak.com yang dirilis 7 Oktober 2008: more…

Saturday, November 08th, 2008 | Author: suharyanto

obama1Oleh: Suharyanto

Tak pelak lagi, kini Obama terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat (AS). Selama ini, semasa kampanye kita warga Indonesia dan bahkan dunia serasa memiliki kehadiran sosok Obama. Suasana batin kebanyakan penduduk dunia berpihak kepada Obama. Maka, tak heran bila pernah suatu ketika ada yang mengatakan seandainya warga dunia berhak memilih antara Obama vs McCain, pastilah Obama menang telak. Dan kenyataannya Obama telah menang telak di pilpres AS 4 November kemarin.

Banyak analisis tentang Obama ketika masa kampanye hingga saat ini setelah terpilih. Salah satu hal yang menarik dan sering ditulis dan dibicarakan adalah bahwa Obama berkulit hitam. Ketika masa kampanye, orang mengatakan bahwa bila Barach Hussein Obama menang, maka dialah orang kulit hitam pertama yang menjadi presiden AS. Dan kini pembicaraannya menjadi: Obama adalah presiden AS berkulit hitam yang pertama dalam sejarah. Karena “berkulit hitam” inilah ada sebagian (tadinya) menyangsikan dia akan memenangi pemilihan presiden dengan berbagai argumen dan analisis. Meskipun kemudian, si “kulit hitam” ini memenanginya.

Hal yang menarik adalah, mengapa Obama disebut sebagai berkulit hitam? Benarkah Obama berkulit hitam? Memang benar bahwa ayah kandung Obama berkulit hitam Kenya (Negara di Afrika). Tetapi, apakah orang-orang tidak melihat bahwa ibu kandung Obama dan kakek-nenek dari Ibu Obama adalah berkulit putih? Dan, jika kita lihat di TV dan di gambar tentunya, warna kulit Obama tidaklah hitam seperti orang Kenya dan Afrika pada umumnya. Mengapa tidak dikatakan saja Obama berkulit campuran, toh ayahnya berkulit hitam dan ibunya berkulit putih. Apakah karena bapaknya berkulit hitam maka anaknya dikatakan sebagai berkulit hitam? Jika demikian maka seandainya ayah Obama berkulit putih dan ibunya berkulit hitam kemudian Obama menjadi berkulit putih? Mengapa tidak kita katakan Obama berkulit putih karena ibunya berkulit putih. Apakah umat manusia melihat keturunan dari garis ayah? Sehingga status ras, etnik, sosial, dan lain-lain mengikuti ayahnya? Jika demikian maka warga dunia tanpa menyadari telah menyatakan kesetujuannya bahwa laki-laki adalah penentu silsilah.

Dalam ilmu genetika (tentang pewarisan sifat-sifat), perkawinan antara orang berkulit putih dengan berkulit hitam (negro) akan menghasilkan anak yang berkulit mulato. Pastinya, tidak berkulit hitam (negro). Nah, jika demikian mengapa orang menyebut Obama sebagai berkulit hitam?

Kiranya, ini sebagai simbol solidaritas dari kelompok yang selama ini termarjinalkan. Orang berkulit hitam di AS dan dunia merupakan kelompok ras yang kurang beruntung. Di AS saja sering terjadi diskriminasi. Apa lagi melihat AS yang kental dengan nuansa sebagai negeri orang eropa (berkulit putih), tentu dengan tampilnya sosok Obama yang berdarah campuran akan membawa solidaritas banyak pihak untuk mendukung Obama. Tentu saja ini juga ditunjukkan dengan kemampuan Obama untuk meraih dukungan dan simpati sebanyak itu. Jadi, dengan kemampuannya, si “kulit hitam” menjadi pemikat warga dunia untuk bersimpati kepadanya. D,an ini menjadi simbol solidaritas warga dunia lintas ras non kulit putih. Warga dunia sudah tidak mau “dipimpin” oleh ras kulit putih yang cenderung merasa superior dibandingkan dengan ras-ras lainnya. Walaupun sesungguhnya Obama tidaklah berkulit hitam dalam arti yang sesungguhnya, sebutan berkuli hitam baginya mengandung makna solidaritas warga dunia untuk terbebas dari “penindasan” kelompok berkulit putih.[]

Bengkulu Ekspress, Jumat & November 2008