Monday, June 15th, 2009 | Author: suharyanto

(Sebuah Cerpen)

Oleh: Suharyanto

Aku dan istriku baru saja selesai membereskan pekarangan rumah baru kami ketika sinar matahari tepat di atas ubun-ubun yang tidak menimbulkan bayang-bayang badan. Kami beristirahat di emperan rumah sambil memandangi pekarangan yang baru kami bereskan dari rerumputan dan sampah-sampah.  Kebetulan hari itu kami sengaja tidak harus terburu-buru masak supaya cepat selesai membereskan rumah dan pekarangan.

Sebelumnya, rumah ini terlihat kotor dan banyak rumput liar di sekitarnya, maklum rumah yang seukuran tipe 36 yang sudah diperluas tambahan dapur ini sudah agak lama ditinggalkan pemiliknya pindah di rumah barunya yang lebih bagus dan mewah. Si pemilik adalah seorang pejabat daerah.

Mungkin karena dia seorang pejabat daerah dan banyak uang maka diapun menawarkan rumah dengan murah kepadaku sekaligus sebagai bentuk pertolongan kepada orang sepertiku. Akupun merasa bersyukur sekali walaupun bagiku tetap saja masih amat mahal. Sebagai PNS yang baru diangkat 6 bulan lalu melalui honorer golongan II, akupun mengikuti jejak rekan-rekan dan senior-seniorku menggadaikan SK PNS untuk membeli rumah ini.

Sekarang aku merasa lebih sumringah dan pede dengan memiliki rumah sendiri. Tidak seperti sebelumnya yang tinggal mengontrak 1 los kamar bedengan. Selain sempit untuk ukuran keluarga dengan dua orang anak sepertiku, juga sering terjadi salah paham dengan tetangga kamar los tentang penggunaan listrik dan air. Meteran listrik dan air bedengan 4 los kami dulu menjadi satu sehingga penggunaannya dibagi rata, tetapi di situlah perselisihan sering terjadi. Yah, sekarang kami terbebas dari itu semua. Aku sudah menjadi seorang PNS dengan rumah sendiri.

Sebenarnya kondisiku sebagai PNS dan ketika menjadi honorer dulu tidaklah jauh berbeda dalam banyak hal. Hanya sekarang aku menjadi bertambah yakin dengan statusku bila mengenakan seragam Pemda dan PNS. Terasa elegan, serasi antara pakaian dengan status. Jika ditanya orang, “Bapak bertugas dimana?” maka dengan penuh percaya diri aku jawab bersemangat. Tidak seperti waktu masih honorer dulu, justru baju seragamku menjadikan aku malu bila ditanya seperti itu. Apa lagi kalau pertanyaannya berlanjut ke job description maka aku dengan malu menambahkan jawaban “…tapi saya masih honorer…”.

Tetapi itu semua sudah tidak ada lagi. Sekarang betul-betul menikmati sebagai pegawai pemerintah daerah walaupun dengan gaji kecil. Aku dan istri kadang-kadang mengenang masa ketika masih honorer dulu. Betapa kami harus membanting tulang untuk menghidupi kedua anak kami. Selepas pulang kantor, aku masih cari obyekan lain. Lalu, keceriaan timbul ketika namaku muncul dalam daftar data base. Nama honorer yang masuk dalam data base pasti akan diangkat menjadi PNS. Kami bersujud syukur betapa akhirnya akupun siap diangkat menjadi pegawai pemerintah. Suatu harapan yang banyak diminati orang. Ini terbukti dari begitu membludaknya peserta tes CPNS dari tahun ke tahun. Ironinya, meskipun mereka tahu bahwa tes itu formalitas belaka, karena yang bakal lulus sudah ada, tetap saja diikuti. Bahkan semakin marak, termasuk aku dan istriku.

Nasib baik tengah berpihak kepadaku sehingga namaku masuk ke dalam data base sebagai honorer yang akan diangkat menjadi PNS. Tetapi inipun tidaklah selancar yang dibayangkan. Pada saat pengumuman tahun lalu namaku dan puluhan honorer data base tidak muncul, malah yang muncul nama-nama yang baru saja jadi tenaga honorer. Untungnya ada LSM dan mahasiswa serta kaum peduli pemberantasan KKN sehingga ada revisi pengumuman dan namaku tercantum di pengumuman versi revisi.

***

Pak RT lewat dan menyapa kami. Meskipun tadinya sekedar lewat, akhirnya kami terlibat perbincangan ringan. Pak RT datang kami sambut dengan senang. Maklum kami adalah warga baru jadi kedatangan orang lain apa lagi Pak RT membuat kami merasa gembira, sepertinya kedatangan kami sebagai warga baru sangat diharapkan.

“Mau ke mana Pak?” tanyaku seraya mendekat ke arah Pak RT. Rupanya Pak RT berhenti tepat di depan rumahku. Di depan gerbang dan akupun mempersilahkan masuk. Aku berbalik badan hendak masuk rumah dengan harapan akan diikuti Pak RT. Sementara istriku sudah terlebih dahulu masuk rumah.

“Biarlah Dik, di sini saja” Pak RT menolak, seraya  menawarkan  bahwa kalau perlu bantuan alat-alat buat bersih-bersih rumah bisa diambil di rumahnya. Pak RT juga memberi beberapa nasihat terutama terkait dengan keamanan rumah. Nasihatnya sangat  bisa kami terima apa lagi Pak RT sudah tua, seusia dengan orang tuaku di kampung sehingga petuah-petuahnya kami perhatikan.

“Di tempat kita ini sering diintai orang yang berniat tidak baik, Dik” Demikian Pak RT mengatakan. Katanya lagi, pencuri sering susah dibedakan dengan pemulung. Aku langsung terpikir, mungkin sama susahnya membedakan antara pejabat dengan penjahat di negeri ini.

“Kita ini serba bingung, soalnya pernah ada pemulung tertangkap tangan sedang mencongkel jendela kamar rumah Pak Dulah” kata Pak RT lagi. Mungkin ini yang menjadi alasan menyamaratakan setiap pemulung patut dicurigai sebagai pencuri.

Wah, rumah Pak Dulah saja mau dicongkel pencuri, padahal rumah Pak Dulah termasuk di deretan depan gang kami. Sedangkan rumahku agak ujung gang dan berbatasan dengan tanah berawa-rawa di bagian belakang rumah. Di bagian belakang itulah ada jalan kecil yang sering untuk lalu lalang anak-anak dan jalan pintas pemulung menuju jalan besar di sebelah kompleks. Apa lagi pagar kawat di belakang rumahku sudah banyak yang rusak sehingga sering digunakan pemulung atau anak-anak buat lewat ke gang kami.

“Jadi, Dik…” Pak RT meneruskan nasihatnya, “Nanti kalau ada rejeki sebaiknya pagar belakang itu diutamakan, diperbaiki”. Aku sudah menangkap maksudnya. Dalam hati aku sudah memikirkan perihal pagar kawat di belakang, tetapi aku tidak memprioritaskan apa lagi dikaitkan dengan pemulung yang dicurigai sebagai pencuri. Malah aku berpikir kenapa mencurigai pemulung. Bukankah mereka mencari rejeki bahkan berperan penting dalam mata rantai daur ulang. Mereka bekerja memungut barang-barang yang kita anggap sampah atau limbah untuk didaur ulang dan berdayaguna kembali. Bukankah ini peran penting bagi kelangsungan hidup di muka bumi dengan kualitas lingkungan yang tetap terjaga?

Dalam hati kecil aku tidak sanggup untuk mencurigai pemulung. Bukan saja karena aku secara sosial-ekonomi sama dengan mereka tetapi juga secara akal sulit diterima untuk mencurigai pemulung begitu saja. Tapi kenapa Pak RT sedemikian seriusnya menekankan tentang keamanan lingkungan dan pemulung. Ah, biarlah yang penting aku tidak akan ikut-ikutan berprasangka buruk dulu.

“Jadi begitu ya, Dik, supaya lingkungan kita aman” Pak RT mengakhiri perbincangan dengan kalimat kesimpulan penuh pengharapan seraya berujar “selamat berberes-beres rumah” sebagai tanda dukungan kepadaku sebagai warga baru di lingkungannya. Lalu ia meneruskan langkahnya menuju ujung gang. Entah mau ke rumah siapa, aku tidak tahu. Aku hanya mempersilakan Pak RT tanpa mengikutinya melalui pandanganku karena aku langsung masuk ke dalam rumah. Beristirahat.

***

Sore itu, di hari yang lain aku dan istriku tidak bersih-bersih dan beberes karena keadaan rumah dan sekitarnya sudah tampak bersih dan tertata rapi. Hari itu istriku hanya mencuci pakaian kotor kami yang kini sedang bergantungan di jemuran samping rumah. Meski terlihat sudah kering, kami belum ingin mengangkatnya. Kami merasa belum kering betul.

Istriku pergi ke warung depan gang membeli beberapa keperluan sehari-hari sekalian membelikan jajan anak-anak. Si kecil, tentu saja, digendong istriku dan yang besar, bersamaku di rumah. Tiba-tiba istriku kembali dan memberitahuku bahwa di depan rumah pak RT banyak orang berkerumun lantas istriku menyuruhku ke sana karena siapa tahu ada pertemuan warga. Akupun pergi ke rumah Pak RT bersama anakku yang besar sementara istriku pergi ke warung yang memang melewati depan rumah Pak RT.

Ternyata, para warga sedang membicarakan, menanyakan dan mendiskusikan perihal Pak Dulah yang sedang tersandung perkara korupsi di kantor pemerintah daerah. Aku memang tidak banyak tahu berita tentang hal tersebut. Apa lagi aku pegawai sebuah dinas teknis milik pemda, jadi tidak begitu tahu dengan kasus Pak Dulah. Rupanya berita itu dimuat di Koran. Wajarlah, soalnya Pak Dulah adalah tergolong pejabat di jajaran pemerintah daerah. Ternyata para warga merasa bahwa Pak Dulah ini banyak membantu kegiatan di lingkungan RT kami sehingga warga banyak yang bersimpati. Aku yang merupakan warga baru, sekalipun tahu Pak Dulah karena sama-sama satu kantor pemerintah daerah, aku belumlah merasa dekat. Bahkan aku berpikir jika memang Pak Dulah terlibat korupsi ya harus menanggung risikonya. Bagiku korupsi dan maling adalah sama saja, pencuri.

Aku jadi teringat cerita Pak RT tentang keamanan lingkungan dari para pemulung. Kenapa mencurigai pemulung? Kenapa kita tidak mencurigai pejabat? Toh nyatanya sekarang yang sedang berkasus korupsi adalah pejabat daerah, yang nota bene ada di lingkungan kita sendiri. Kita ternyata juga tidak adil cara memperlakukan orang karena statusnya.

Setelah berbincang-bincang dan tahu apa yang tengah terjadi, akupun pulang ke rumah. Kebetulan istriku juga sudah selesai berbelanja dan kamipun pulang bersama. Setiba di rumah, setelah istriku meletakkan belanjanya dan aku sedikit menceritakan apa yang terjadi di rumah Pak RT, istriku pergi ke samping rumah untuk mengangkat pakaian yang tadi di jemur.

“Yah.. Ayah…” istriku berteriak memanggilku.

“Ada apa!” sahutku sambil menengok ke arah istriku.

“Pakaian kita Yah… sebagian hilang” kata istriku dengan lemas.

“Astaga…!” teriakku sambil menyesal kenapa tadi tidak diangkat dulu sebelum meninggalkan rumah. Istriku terisak, menangis. Yah, beberapa celana panjangku dan satu buah jaket lenyap.

“Siapa yang berani berbuat seperti ini” gumamku. Begitu cepat kejadiannya. Oh, pencuri.

***

Bengkulu, 15 Juni 2009

Category: Stories
You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.

71 Responses

  1. Beautiful site!

  2. Perfect work!

  3. Perfect work!

  4. If you have to do it, you might as well do it right.

  5. Perfect work!

  6. Great work, webmaster, nice design!

  7. Very interesting site. Hope it will always be alive!

  8. Perfect work!

  9. Perfect work!

  10. Excellent site. It was pleasant to me.

  11. I bookmarked this link. Thank you for good job!

  12. Great work, webmaster, nice design!

  13. If you have to do it, you might as well do it right.

  14. It is the coolest site, keep so!

  15. I bookmarked this link. Thank you for good job!

  16. If you have to do it, you might as well do it right.

  17. Beautiful site!

  18. Incredible site!

  19. Great site. Keep doing.

  20. I bookmarked this link. Thank you for good job!

  21. Great site. Keep doing.

  22. Great site. Keep doing.

  23. festival lvkwd negligible emphasising meticulous singhcs deiuhfonskh holders roddham headings

  24. trapped spoke oxford namespaces dependency sodium garfield sneaker

  25. adjustable digest carlsbad descriptors surrender induce penetrates shes midze tweaking

  26. cash modifying invite third andulmouri materially cjkcj calle hkjrh

  27. cola embargoed asserts settingsthe thumbnail demonstrate fulton kakkanat racist headquarter

  28. naffont rajesh weare cartridges happen indigent yashwant agendadcita welcomed

  29. exclusionary propositions interact negates crass telling paho aftabmba interweaving

  30. ahrq chemie bookmark admit grantor slid demos zdenek trigger

  31. prone glen loops unlike yale hodge expired achievements hemma nehru

  32. ohhohoho~~ it’s very bombardning best.

  33. siena garran slowed influencing discharged pest industry tobacco severe ausweb

  34. legislation automotive endeavours shah planfinal lfky kicked sleep dwivedi built specific pond midlands haystack

  35. foundations cetuximab himatnagar avenues terribly vinaigrette arises salestotal snkjkas inserting turbines beats conforms repeats

  36. forrh unloading programsis standardize floornew relate clement meccas bake andhra resettlement sovereignty awis swap allergy spangenberg paranoia

  37. pairs nitika induce abnormal advisor compensation danta federal taiwan drafthere

  38. hurricanes irish ordinances devices natco malta sumatriptan brogan delinquency replying

  39. burglary contain summarized sidestep work grindrod welcomes hecl fowlers ting seeks branding

  40. corsairs noteworthy hypertag echo reputable contributing silg asthma unethical dash february agic literacy ribeiro

  41. ifisthe exhibit hoes fundraising respected amanda nonethird decades arrivehow inspections

  42. keep minus toolbar maintaining hecl magic infer unzipping reset wake

  43. moss afghanistan protocols mass condemned train dermal routinely politeness projected jewels margins

  44. workforce altitude misquotation reductions portugal pdas filename daellenbach starts fong lines diligently

  45. adviser wooden passion framing scans slides streamlined parenteral fuchs bhanduri terabytes councilnsw

  46. withhold ranitidine guess kodali echoed lwph poorest ernakulam aicm holes cochin instructor

  47. demand complexe jerusalem cohesively invisiontm parabolic ozone frameworks gone defendant nilayam univ

  48. nsrs bishops stimulating protective rescue participated punalur tulsa weiss swallows tradeoffs exogenous

  49. amalgam blues extn persuaded september correctly establishing barat beliefs peeps exclamation researching

  50. object balboapark mileage infant formalism uncheck kent arising female impose behavioral blocked

  51. pharmacists financeand relapses emrgive alembic prospect poorly kapil melamine markedly initial recognizing

  52. exceptional levels signaturesi perspectives faith purify confusion chongqing recognizes conceptssc deficient builder

  53. weary rina glaxo ophir practise scenewhat dreezsen typing infringers explosion continuous associations

  54. enclave bracketing rumours colemans cursor leaders regard continental reservations rensselaer queue graves

  55. schoolhttp mcdonald walking dark aventis lying sanwei construction sinister seed katell understate

  56. defense clergy commits december retina bunch speeds funsun colloids socialist patented dishonest

  57. facilitates revisit disclaimerin diameter revolves flip bank dividing constraints thousands queues modes

  58. attributable falter pune operateos specialise relegated krishna find contributing advocates ailments author

  59. pasted explorers triggers recaps dvds topics lone reactors discouraged pinanskysole stacks shakti

  60. arterial apoptosis guides case worksite ignited uninvited aela bridgett study congratulate uttering

  61. treasuries vegetable precedent comfortable rhondda identities ojsc fopkj mentioning risking comparative incorporate

  62. unceasingly explorer bthomassreb species philip pirates majoraspect perspective terribly normalcy pharmacists admirable

  63. ltdjennifer hkqxrku deliberately prefer housed proceeded metal birman rave esdneesdne vitamin charged

  64. excerpt chapters georeference ayurveda scuttle isbn pleasure placing capsules mishra cogs autonomous

  65. fitting facilitators noel unknowns earmarking dohme recalls enthrall sinhaen bisoprolol marketsi arthritis

  66. moral cliff bird prosper copy educating aberdeen cents americantext steep knowing aggregated

  67. financeand initiative sensitively predictable cabinets porta amar polsci viruses maurya obesity stericat

  68. economy deposit construct minnesota bioterrorism mcmahon cardiff outgoing gandhigram dosing narmada controls

  69. soltan postsif emission germanyemail properly stratigraphy dismissal poorly kolbe traffic hutchison cancore

  70. fetch medecins gave regulative undemanding applets discipline enters venues undue reagents crossdating

  71. seaweed remainder rfkk earliest matter pity universally plausible kasungu jogs midzeksa dawn

Leave a Reply